Kisah inspiratif IPDA Puguh Agung Dwi Pambuditomo, polisi di Blora yang menghidupkan kembali sekolah terbengkalai untuk anak-anak disabilitas di Randu
BLORA – Di Kabupaten Blora, nama IPDA Puguh Agung Dwi Pambuditomo mungkin lebih dikenal sebagai perwira yang memastikan arus kendaraan tetap mengalir lancar. Namun, jika Anda masuk lebih dalam ke wilayah Randublatung, Anda akan menemukan sisi lain dari pengabdiannya yang tidak diukur oleh angka pelanggaran lalu lintas atau kemacetan yang terurai. Di sana, di sebuah gedung tua yang sempat "mati", Puguh sedang merajut kembali harapan-harapan yang nyaris putus.
Monumen Kesunyian yang Kembali Bernapas
Dahulu, bangunan sekolah dasar itu hanyalah saksi bisu keterbatasan. Dindingnya kusam, ruangannya hampa tanpa suara tawa, dan atapnya seolah menyerah pada cuaca. Bagi masyarakat sekitar, itu hanyalah gedung terbengkalai. Namun bagi IPDA Puguh, gedung itu adalah sebuah luka yang harus disembuhkan.
Setiap kali berinteraksi dengan warga Randublatung, Puguh mendapati kenyataan pahit: anak-anak penyandang disabilitas tumbuh dalam kesunyian. Keterbatasan ekonomi dan geografis membuat pendidikan bagi mereka terasa seperti kemewahan yang mustahil digapai. Mereka ada, namun seolah tak terlihat; mereka bernapas, namun seolah tak diberi ruang untuk bermimpi.
"Pendidikan adalah pintu. Jika pintunya saja tidak ada, bagaimana mereka bisa melihat masa depan?" gumamnya suatu ketika. Kalimat itu bukan sekadar retorika. Puguh turun tangan langsung. Tanpa menunggu anggaran besar atau sorotan kamera, ia memulai renovasi dengan inisiatif pribadi. Dari memperbaiki atap hingga mengecat dinding, ia menghidupkan kembali ruang yang mati menjadi "Rumah Harapan".
Duduk Sejajar, Menghapus Jarak
Pemandangan di dalam kelas itu kini telah berubah. Tidak ada lagi debu tebal, yang ada adalah goresan pensil di atas kertas. Di sana, pemandangan paling menyentuh sering terjadi: IPDA Puguh duduk sejajar dengan siswanya. Kursi kecil itu membuat lututnya menekuk tinggi, namun ia tak keberatan.
Di momen itu, atribut kepolisiannya seolah luruh. Tidak ada nada perintah, tidak ada wibawa yang mengintimidasi. Yang ada hanyalah seorang pendamping yang sabar, menyimak setiap gerak tangan yang gemetar, dan menunggu dengan ketenangan seorang ayah saat seorang anak berjuang mengeja satu kata.
Bagi anak-anak ini, IPDA Puguh bukan sekadar polisi yang mengatur jalan raya. Ia adalah sosok yang pertama kali membuat mereka merasa "layak". Layak untuk belajar, layak untuk diperhatikan, dan layak untuk memiliki cita-cita. Kehadirannya menjadi simbol kuat bahwa negara hadir di sudut-sudut yang paling sunyi, lewat cara yang paling manusiawi.
Menjaga Jalan, Menjaga Harapan
Kisah inspiratif ini pun akhirnya mengetuk pintu nasional melalui program Kisah Presisi di CNN Indonesia bertajuk “Penjaga Jalan, Penjaga Harapan”. Program tersebut memotret wajah Polri yang berbeda—bukan sebagai penegak hukum yang kaku, melainkan sebagai penggerak perubahan sosial yang lahir dari empati terdalam.
Langkah Puguh menuai apresiasi luas karena ia menunjukkan bahwa pengabdian sejati tidak selalu tentang pangkat yang tersemat di bahu, melainkan tentang seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan oleh mereka yang jarang terdengar suaranya.
Di Randublatung, waktu seakan berjalan lebih lambat di dalam ruang kelas sederhana itu. Di sana, IPDA Puguh membuktikan bahwa menjaga keamanan dan menjaga harapan bisa berjalan beriringan. Setiap senyum yang lahir dari anak-anak disabilitas itu adalah "lalu lintas" kebahagiaan yang jauh lebih bermakna daripada sekadar kelancaran jalan raya. Di ruang kecil itulah, harapan tidak tumbuh dari kemewahan, melainkan dari ketulusan yang memberi keberanian untuk bermimpi.
.jpg)
.jpg)

