BLORA – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Blora melwati kawasan Tugu Pancasila untuk mendatangi G...
BLORA – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Blora melwati kawasan Tugu Pancasila untuk mendatangi Gedung DPRD Kabupaten Blora pada Jumat pagi (19/6). Mengusung tema "BBM Naik, Rakyat Menjerit, Negara Kaya, Rakyat Sengsara", aksi ini menjadi puncak kegelisahan publik menyusul kebijakan kenaikan harga BBM nonsubsidi yang berlaku per 10 Juni lalu.
Dengan orasi membara, teatrikal simbolik, dan pembacaan puisi kritik sosial, para mahasiswa menyampaikan empat tuntutan mendesak kepada pemerintah pusat dan daerah. Aksi yang berlangsung tertib hingga pukul 11.00 WIB ini merupakan bentuk kontrol sosial sekaligus pengingat bahwa amanat konstitusi tentang kemakmuran rakyat tidak boleh dikhianati.
Dampak Berantai yang Mencekik Rakyat Kecil
Dalam orasi utamanya, Koordinator Aksi HMI Cabang Blora menyoroti bahwa kenaikan Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter bukan sekadar angka. "Ini adalah pukulan beruntun bagi nelayan, petani, dan pelaku UMKM. Biaya produksi melonjak, harga pangan ikut tercekik, dan daya beli masyarakat yang sudah rapuh semakin tergerus," tegasnya di hadapan puluhan aparat kepolisian yang mengawal jalannya aksi.
HMI menilai kebijakan ini memiliki efek domino yang nyata: transportasi mahal, logistik tersendat, dan ongkos produksi pertanian di Blora yang sebagian besar mengandalkan alat berat berbahan bakar melambung tinggi. Ironisnya, beban ini ditanggung langsung oleh masyarakat kecil yang justru menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Blora Penghasil Migas, tapi Rakyat Tak Merasakan Manfaat
Satu poin yang paling mengemuka dalam aksi ini adalah sindiran tajam terhadap realitas paradoksal: Kabupaten Blora merupakan salah satu lumbung minyak dan gas bumi nasional, namun warganya justru hidup dalam tekanan ekonomi.
"Kekayaan alam Blora mengalir deras ke kas negara, tapi air mata rakyatnya juga tak kunjung surut," ujar salah satu pembaca puisi dalam aksi teatrikal. HMI mengingatkan bahwa Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 dengan tegas mengamanatkan penguasaan negara atas kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,bukan untuk sekadar mengejar angka makro ekonomi.
Empat Tuntutan Tegas dari HMI Blora
Mewakili suara mahasiswa dan masyarakat, HMI Cabang Blora secara resmi menyampaikan empat tuntutan dalam pernyataan sikap yang diserahkan kepada perwakilan DPRD Blora:
1. Menurunkan harga BBM nonsubsidi agar tidak semakin membebani daya beli rakyat.
2. Menjamin ketersediaan BBM subsidi yang tepat sasaran dan memastikan mekanisme distribusi tidak menyimpang.
3. Menstabilkan harga kebutuhan pokok serta melindungi daya beli masyarakat melalui intervensi kebijakan yang berpihak.
4. Mengoptimalkan pendapatan sektor migas Kabupaten Blora secara transparan dan berkeadilan, agar hasil bumi benar-benar dirasakan oleh warga setempat.
Mahasiswa: Agen Perubahan Bukan Sekadar Penonton
Ketua HMI Cabang Blora menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar seremonial, melainkan panggilan moral. "Mahasiswa adalah garda terdepan yang tidak boleh diam ketika rakyat semakin sulit bernapas. Kami hadir bukan untuk menggurui, tetapi untuk mengingatkan bahwa setiap kebijakan harus berorientasi pada kemanusiaan dan keadilan sosial."
Ia juga mengajak seluruh elemen mahasiswa dan organisasi kepemudaan di Blora untuk terus mengawal isu-isu publik dengan cara-cara konstitusional dan damai. "Kami akan terus menyuarakan kepentingan rakyat, karena ketika rakyat menjerit, maka kami pun wajib bersuara."
Negeri Kaya, tapi Rakyatnya Masih Menderita?
Di akhir aksi, para mahasiswa kembali meneriakkan yel-yel khas HMI: "YAKUSA! Yakin - Usaha - Sampai!" seraya membentangkan spanduk besar bertuliskan: "NEGERI INI KAYA, TAPI MENGAPA RAKYATNYA MASIH MENDERITA?"
HMI Cabang Blora berkomitmen untuk terus mengawal proses evaluasi kebijakan ini dan membuka ruang dialog dengan pemerintah daerah. Mereka berharap, aksi ini menjadi titik balik bagi pengambil kebijakan untuk mendengar detak jantung rakyat yang sesungguhnya.