Blora – Kabupaten Blora kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat denyut kebudayaan di Indonesia. Pada 16 Juni 2026, Lesbumi (Le...
Blora – Kabupaten Blora kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat denyut kebudayaan di Indonesia. Pada 16 Juni 2026, Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) menghadirkan Pentas Silaturahmi Musik Literasi: Lagu Puisi Untung Basuki, sebuah perhelatan seni yang memadukan puisi, musik, literasi, dan silaturahmi budaya dalam satu panggung kebersamaan.
Bertempat di Stadium Seni Budaya Tirtonadi Blora, acara ini menjadi pembuka rangkaian tur kebudayaan yang akan digelar di dua belas kota di Indonesia.
Blora Menjadi Titik Awal Perjalanan Budaya
Dipilihnya Blora sebagai kota pertama dalam rangkaian pentas bukan tanpa alasan. Kabupaten yang dikenal sebagai tanah kelahiran tokoh-tokoh besar bangsa ini memiliki jejak sejarah panjang dalam perkembangan intelektualitas dan gerakan kebudayaan Indonesia.
Nama-nama besar seperti Pramoedya Ananta Toer, Mas Marco Kartodikromo, hingga Tirto Adhi Soerjo memiliki keterkaitan kuat dengan Blora. Daerah ini juga pernah menjadi tempat berdirinya Institut Boedi Oetomo pada tahun 1917, salah satu lembaga pendidikan modern milik pribumi yang memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa.
Karena itulah, Blora dinilai menjadi ruang yang tepat untuk memulai perjalanan silaturahmi budaya yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Untung Basuki, Pelopor Lagu Puisi Indonesia
Salah satu daya tarik utama dalam pertunjukan ini adalah kehadiran Untung Basuki, seniman yang dikenal luas sebagai pelopor musikalisasi puisi atau yang ia sebut sebagai "lagu puisi".
Sahabat dekat mendiang W.S. Rendra tersebut telah menggubah puisi menjadi lagu sejak tahun 1972 dan terus mengembangkan tradisi berkesenian yang memadukan kekuatan kata-kata dengan harmoni musik.
Melalui komunitas yang didirikannya, Sanggar Bambu (SABU), Untung Basuki konsisten menjaga semangat kesenian yang membumi, kritis, sekaligus humanis.
Dalam pentas di Blora, masyarakat akan diajak menikmati karya-karya lagu puisi yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia.
D.S. Priyadi dan Warisan Pemikiran Rendra
Selain Untung Basuki, acara ini juga menghadirkan D.S. Priyadi, sosok yang dikenal sebagai generasi terakhir yang berkesempatan berinteraksi langsung dengan penyair besar Indonesia, W.S. Rendra.
Melalui Burungmerak Press, D.S. Priyadi aktif mendokumentasikan berbagai warisan intelektual Rendra, mulai dari puisi, esai, naskah drama, hingga pidato dan gagasan kebudayaan.
Dalam pertunjukan nanti, D.S. Priyadi akan menutup rangkaian acara melalui pembacaan dramatik yang merefleksikan kekuatan sastra sebagai suara zaman.
Ajang Kolaborasi dan Silaturahmi Komunitas
Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Pentas Silaturahmi Musik Literasi digelar sebagai ruang perjumpaan berbagai komunitas, pegiat seni, budayawan, akademisi, dan masyarakat umum.
Kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan Metode Rendra dalam berkesenian, sebuah pendekatan yang menempatkan seni sebagai media pembelajaran, refleksi sosial, sekaligus sarana membangun kesadaran kemanusiaan.
Semangat kolaborasi dan silaturahmi inilah yang menjadi ruh utama dari perjalanan pentas budaya tersebut.
Menambah Gemerlap Agenda Kebudayaan Blora
Pertunjukan akan diawali oleh penampilan para seniman lokal
Blora yang selama ini turut menjaga denyut kreativitas daerah. Setelah itu, panggung akan menghadirkan lagu-lagu puisi karya Untung Basuki, sebelum ditutup dengan pembacaan dramatik oleh D.S. Priyadi.
Kehadiran agenda ini semakin memperkaya kalender kebudayaan Kabupaten Blora yang dalam beberapa tahun terakhir terus menunjukkan geliat positif sebagai ruang tumbuh seni, sastra, dan literasi.
Pentas Silaturahmi Musik Literasi bukan sekadar pertunjukan, melainkan perayaan atas kata, nada, dan persaudaraan budaya yang menyatukan berbagai generasi dalam satu panggung kemanusiaan.