BLORA – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), gagasan "Poros Tengah NU" mengemuka sebagai tawaran jalan pemer...
BLORA – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), gagasan "Poros Tengah NU" mengemuka sebagai tawaran jalan pemersatu. Gagasan ini dimaksudkan untuk menjaga marwah organisasi, memperkuat persatuan warga nahdliyin, serta memastikan NU tetap berdaulat dalam menentukan arah perjuangannya di abad kedua. Pemikiran tersebut disampaikan oleh KH Ahmad Zaki Fuad, M.Ag, Rektor IAI Khozinatul Ulum, sebagai refleksi kritis menghadapi dinamika internal organisasi.
Perbedaan Adalah Kekayaan, Polarisasi Adalah Ancaman Nyata
Dalam pandangan KH Ahmad Zaki Fuad, NU sejak awal dibangun di atas tradisi menghargai perbedaan. Keberagaman pandangan justru menjadi sumber kekayaan pemikiran, budaya musyawarah, serta kearifan yang selama ini memperkokoh organisasi.
Namun, ia mengingatkan bahwa situasi akan berbeda ketika perbedaan berubah menjadi polarisasi yang berkepanjangan. Dinamika yang mengeras di tingkat elite hingga akar rumput berpotensi melahirkan sekat-sekat baru yang menguras energi organisasi. Lebih dari itu, polarisasi juga mengancam kedaulatan NU dalam menentukan arah perjuangannya sendiri.
Independensi NU di Atas Segala Kepentingan Politik
Menjelang Muktamar, menurutnya, NU juga menghadapi tantangan serius berupa menguatnya persepsi publik mengenai masuknya kepentingan politik praktis dalam proses regenerasi kepemimpinan.
KH Ahmad Zaki Fuad menegaskan, NU tidak pernah melarang kadernya berkiprah di dunia politik. Namun, organisasi harus tetap berdiri di atas seluruh kepentingan politik agar independensi dan kewibawaan moralnya tetap terjaga di hadapan umat, bangsa, dan negara.
Karena itu, kepemimpinan mendatang diharapkan mampu menjaga jarak yang sama terhadap seluruh kepentingan politik. Pemimpin NU ke depan harus diterima oleh seluruh elemen nahdliyin sebagai milik bersama, bukan representasi dari kelompok tertentu.
Tiga Pilar Jalan Tengah: Tawasuth, Marwah, dan Khittah
Gagasan jalan tengah dinilai menjadi kebutuhan organisasi saat ini karena bertumpu pada tiga alasan utama.
Pertama, menghidupkan kembali nilai tawasuth sebagai karakter utama NU, yakni sikap moderat yang mampu merangkul perbedaan dan mengubah kompetisi internal menjadi energi untuk melayani umat.
Kedua, menjaga marwah NU sebagai organisasi yang berdiri di atas semua golongan dan tidak terjebak dalam kepentingan politik praktis, sehingga tetap menjadi rumah besar bagi seluruh warga nahdliyin.
Ketiga, mengembalikan fokus perjuangan NU kepada khittahnya sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang mengutamakan pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi umat, pelayanan sosial, pengembangan sumber daya manusia, dan kontribusi bagi peradaban.
Mencari Figur Pemersatu, Bukan Sekadar Pemenang Pertarungan
Dalam tulisannya, KH Ahmad Zaki Fuad menegaskan bahwa NU saat ini tidak membutuhkan pemimpin yang membawa kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Yang dibutuhkan adalah figur yang mampu merangkul semua pihak, menurunkan tensi konflik, serta menghapus sekat-sekat lama yang muncul akibat dinamika internal.
Sosok pemimpin yang ideal adalah mereka yang memiliki legitimasi moral untuk menyatukan seluruh warga nahdliyin tanpa dibebani warisan konflik maupun afiliasi politik praktis. Figur pemersatu, bukan pemenang pertarungan.
Menuju NU yang Berdaulat, Bermartabat, dan Bermanfaat
Pada akhirnya, gagasan Poros Tengah NU bermuara pada cita-cita menghadirkan NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat.
Berdaulat dalam menentukan arah organisasi tanpa intervensi kepentingan di luar kemaslahatan jam'iyah. Bermartabat dalam menjaga persatuan dan tradisi luhur para muassis. Serta bermanfaat melalui kerja-kerja nyata yang dirasakan umat, bangsa, dan dunia.
Dengan demikian, jalan tengah bukan sekadar berbicara tentang siapa yang akan memimpin NU pada Muktamar ke-35. Jalan tengah adalah tentang bagaimana NU melangkah memasuki abad kedua sebagai organisasi yang semakin kokoh, mandiri, dan menjadi perekat persatuan bangsa.