Pimpinan LSM Jati Bumi Tedjo Prabowo soroti ancaman kemarau & hama di Blora lewat tradisi Tompo Seren Aboge. Simak imbauannya untuk petani!
BLORA — Suasana santai menyelimuti kawasan bangunan tua bekas Stasiun Blora Kota pada Rabu (5/9/2026). Di antara riuh ingar-bingar kota, segelas kopi hitam menemani wawancara dengan Tedjo Prabowo, ST, Pimpinan LSM Jati Bumi, mengenai tantangan iklim dan nasib sektor pertanian lokal.
Membaca Isyarat Tompo Seren dan Siklus Alam
Dalam perbincangan tersebut, Tedjo menyoroti pergeseran musim yang bertepatan dengan momentum transisi penanggalan tradisional Tompo Seren. Mengacu pada perhitungan Jawa versi Aboge, awal bulan Suro tahun ini jatuh pada weton Kamis Legi.
Bagi Tedjo, kombinasi penanggalan ini menyimpan pesan reflektif melalui pendekatan kerata basa. Kata Kemis Legi dihubungkan dengan istilah kegi—sebuah kondisi batin yang menggambarkan rasa heran atau waspada terhadap fenomena yang kurang menguntungkan. Hal ini dikaitkan dengan potensi dinamika iklim dalam siklus delapan tahunan (Windu), seperti ancaman kemarau panjang hingga risiko ledakan hama tikus di lahan pertanian Blora.
Strategi Ketahanan Mental dan Kerja Keras Petani
Kendati memaparkan potensi tantangan alam, Tedjo menekankan agar masyarakat tidak terjebak dalam kepanikan. Ia justru menyuarakan imbauan yang realistis dan membakar semangat para petani untuk tetap produktif.
"Petani harus tetap menanam dan mengolah lahannya. Namun, jangan terlalu menaruh harapan yang berlebihan. Kita perlu siap bekerja lebih keras dari biasanya, mengelola ketersediaan air dengan bijak, serta memperketat pengawasan lahan," ujar Tedjo.
Harapan Tedjo, dengan mengajak petani tetap turun ke sawah tanpa dibebani ekspektasi muluk, dorongan kerja dan daya tahan mental masyarakat Blora tetap terjaga dari ancaman kecemasan berlebih.
Langkah Nyata Antisipasi Kering dan Hama
Secara teknis agronomi, arahan dari LSM Jati Bumi ini menjadi pengingat penting bagi penyesuaian pola tanam. Menghadapi potensi kemarau, petani dianjurkan beradaptasi dengan memilih komoditas efisien air seperti palawija. Selain itu, aksi gotong royong membersihkan pematang sawah dan gropyokan tikus sejak dini menjadi kunci agar populasi hama tidak merusak hasil panen.
Wawancara siang di Stasiun Lama Blora Kota itu menutup perbincangan dengan sebuah optimisme pragmatis. Di tengah ketidakpastian iklim, ikhtiar menjaga bumi dan kesiapan bekerja keras tetap menjadi kunci utama masyarakat Blora dalam menjaga ketahanan pangan daerahnya.
