Mahasiswa Teknik Sipil STTR Cepu berkolaborasi dengan Kemensos RI salurkan bantuan ADL bagi penyandang disabilitas di Sambong, Blora.
Sambong, Blora – Selama ini, mahasiswa teknik identik dengan kalkulasi struktur, beton, dan cetak biru pembangunan fisik. Namun, pada Rabu (29/01/2026), pemandangan berbeda tampak di Desa Pojokwatu, Kecamatan Sambong. Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Sipil STTR Cepu menanggalkan sejenak penggaris sikunya untuk menyentuh "struktur" yang jauh lebih rapuh namun fundamental: kemanusiaan.
Dikawal Heri Ireng, Pengelola Layanan Operasional dari Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Sosial RI, para mahasiswa ini terjun langsung ke rumah-rumah warga disabilitas mental. Bukan untuk mengukur luas bangunan, melainkan untuk memastikan bahwa hak-hak dasar warga negara yang paling rentan tetap terpenuhi di tengah transisi administrasi awal tahun anggaran.
Agitasi Positif dan Mobilisasi Kepedulian
Langkah ini bermula dari inisiatif taktis Heri Ireng yang melihat adanya celah pelayanan akibat belum cairnya Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) di tingkat daerah. Alih-alih berpangku tangan, ia melakukan "agitasi" positif kepada civitas akademika STTR Cepu. Hasilnya mengejutkan; para mahasiswa menyambut tantangan tersebut dengan antusiasme tinggi.
"Kami ingin adik-adik mahasiswa tidak hanya pintar membangun jembatan beton, tapi juga mampu membangun jembatan empati dengan masyarakat sekitarnya," ujar Heri Ireng di sela-sela kegiatan.
Kepercayaan penuh diberikan kepada mahasiswa untuk mengelola donasi dari pengusaha lokal, Bapak Suma Novendi. Mereka dilibatkan mulai dari proses identifikasi kebutuhan, belanja perlengkapan Activity Daily Living (ADL), hingga pemilihan asupan nutrisi yang aman. Sebuah pembelajaran lapangan yang tidak akan pernah ditemukan dalam buku teks mekanika tanah.
Menyentuh Sisi Sensitif yang Terabaikan
Salah satu titik fokus aksi ini adalah kediaman Ayu Chandra Kirana, seorang remaja dengan retardasi mental. Di sini, mahasiswa diajak memahami realitas yang sering dianggap tabu: kesehatan reproduksi bagi penyandang disabilitas. Mengetahui Ayu sering kesulitan menjaga kebersihan saat menstruasi, para mahasiswa secara khusus menyiapkan paket pembalut wanita dan alat kebersihan diri lainnya.
Selain Ayu, paket serupa juga disalurkan kepada Wawan Purwanto dan Slamet, dua remaja penyandang Down Syndrome. Kehadiran para mahasiswa yang enerjik membawa suasana baru bagi keluarga penerima manfaat. Di balik keterbatasan fisik dan mentalnya, binar mata Wawan dan Slamet seolah berbicara bahwa mereka tidak sedang berjuang sendirian.
Doa Tulus dari Sudut Desa
Suasana haru pecah saat prosesi penyaluran berakhir. Sebagai bentuk penghormatan dan kearifan lokal, keluarga para difabel ini diminta memanjatkan doa bagi para mahasiswa. Di sebuah ruang tamu sederhana, dengan suara yang terbata namun tulus, mereka mendoakan agar para mahasiswa STTR Cepu ini kelak menjadi orang-orang sukses yang tetap memiliki hati bagi rakyat kecil.
Ini adalah bentuk simbiosis spiritual. Mahasiswa memberikan bantuan materiil, sementara keluarga PPKS memberikan "bekal" spiritual bagi perjalanan karier para calon insinyur tersebut. Sinergi ini membuktikan bahwa pembangunan manusia Cepu Raya seutuhnya memang harus berlandaskan nilai-nilai Pancasila—di mana keadilan sosial diwujudkan melalui gotong royong lintas generasi.
Tantangan di Balik Sinergitas
Meski kegiatan penyaluran berjalan lancar, Heri Ireng mengakui masih banyak pekerjaan rumah (PR) besar. Upaya merujuk para remaja difabel ke lembaga rehabilitasi dan sekolah luar biasa masih menemui jalan buntu karena ikatan emosional keluarga dan kondisi orang tua yang sudah lansia.
Namun, keterlibatan mahasiswa STTR Cepu hari ini telah memberikan sinyal kuat; bahwa ketika birokrasi sedang melambat, kekuatan sinergi kelembagaan dan kepedulian komunitas tetap mampu bergerak cepat. Desa Pojokwatu hari ini menjadi saksi, bahwa teknik sipil bukan hanya soal semen dan besi, tapi soal bagaimana membangun kehidupan yang lebih layak bagi sesama.
Aksi mahasiswa STTR Cepu adalah bukti nyata bahwa kepedulian tidak perlu menunggu anggaran turun. Mari kita teruskan estafet kebaikan ini! Jika Anda memiliki informasi mengenai PPKS yang membutuhkan bantuan di wilayah Blora, segera hubungi petugas layanan sosial terdekat. Mari bergotong royong untuk Blora yang lebih inklusif dan sejahtera!
