Simak narasi mendalam anggota Resmob Polres Blora memaknai Hari Pers Nasional 2026 sebagai pilar keamanan dan pembangunan manusia di Cepu Raya.
Malam itu di kedai kopi di sudut Stasiun Blora, seorang pria dengan jaket taktis dan jam tangan outdoor yang kokoh tampak menyesap kopi hitamnya. Dia adalah Bripka Dwi Wahyudi Puji Susanto, representasi anggota Resmob Polres Blora masa kini yang memiliki citra gahar di permukaan. Sambil menatap layar gawainya yang menampilkan berita perayaan Hari Pers Nasional 2026, dia mulai berbicara dengan nada santai namun penuh muatan intelektual yang dalam, layaknya seorang pemikir yang sedang membedah struktur sosial.
Dwi Wahyudi yang akrab disapa Bang Black mulai bercerita, "Keberadaan pers pada tahun 2026 ini, masih jadi instrumen vital dalam menjaga stabilitas keamanan serta ketertiban masyarakat." Baginya Pers merupakan mitra strategis yang memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik, terutama dalam mengawal pembangunan manusia yang utuh di Kabupaten Blora dan kawasan Cepu Raya.
"Kita harus melihat bahwa keamanan sebuah wilayah tidak hanya ditentukan oleh nihilnya aksi kriminalitas di jalanan, namun juga ditentukan oleh sehatnya sirkulasi informasi yang dikonsumsi oleh masyarakat setiap harinya," ungkapnya.
Melawan Distorsi Informasi dengan Integritas Narasi
Di tengah gempuran teknologi informasi yang semakin canggih, tantangan yang kita hadapi di lapangan sekarang jauh lebih kompleks. Menurut Bang Black, Resmob tidak hanya berurusan dengan pencurian kendaraan bermotor atau perjudian, tetapi juga harus sigap memantau bagaimana sebuah informasi diproduksi dan dikonsumsi.
"Sebenarnya Mas, pers yang berintegritas menjadi benteng terakhir dalam melawan hoaks yang berpotensi memicu konflik horizontal. Ketika rekan-rekan jurnalis menyajikan data yang obyektif serta jujur, secara otomatis beban kerja kepolisian dalam menjaga stabilitas emosi massa menjadi jauh lebih ringan," tambahnya.
Pembangunan manusia yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila memerlukan fondasi kebenaran. Tanpa kebenaran informasi, pembangunan materiil sehebat apa pun di Cepu Raya akan terasa hambar karena jiwa manusianya terjebak dalam disinformasi. Pers memiliki tugas suci untuk memastikan bahwa setiap derap langkah pembangunan tetap berada di jalur kemanusiaan yang adil dan beradab. Inilah yang kita sebut sebagai kolaborasi organik antara penegak hukum yang menjaga fisik wilayah dan insan pers yang menjaga kewarasan pikiran publik.
Estafet Nilai di Tengah Modernitas Cepu Raya
Melihat masa depan Kabupaten Blora dan Kawasan Cepu Raya sebagai episentrum ekonomi dan budaya, sinergi antara Polri dan media harus semakin dipererat dengan cara yang lebih modern namun tetap membumi. Bang Black sadar bila, "Kita bicara soal bagaimana wacana tentang pembangunan tidak hanya berhenti pada angka-angka laporan pencapaian, tapi juga harus menyentuh spiritualitas masyarakat Blora yang dikenal santun dan jujur. Anggota Resmob seperti saya harus memahami bahwa pencegahan kejahatan terbaik adalah melalui edukasi yang masif dan berkualitas, yang mana hal tersebut hanya bisa dilakukan secara maksimal lewat tangan dingin para jurnalis."
Masih menurut Bang Black, Hari Pers Nasional 2026 ini baiknya menjadi momentum bagi semua pihak untuk berefleksi bahwa kekuatan tinta seringkali lebih tajam dalam menyembuhkan luka sosial daripada sebuah tindakan represif. "Kita ingin melihat masyarakat yang tangguh secara fisik namun juga memiliki kedalaman berpikir yang jernih. Dengan begitu, cita-cita pembangunan manusia seutuhnya yang sering gaungkan bisa terwujud nyata melalui kerja keras kita bersama di lapangan, baik melalui pengintaian di lorong-lorong gelap maupun melalui ketikan berita di ruang redaksi yang terang benderang," pungkasnya.
Mari kita dukung jurnalisme lokal yang sehat dan obyektif demi menjaga kondusivitas serta kemajuan pembangunan manusia di Bumi Samin. Bersama Pers, Polri makin Presisi!
Salam Presisi.
