KPH Randublatung transformasikan pengelolaan hutan jati melalui pendekatan multi-usaha, keterlibatan milenial, dan pelestarian ekosistem berkelanjutan
RANDUBLATUNG – Di bawah naungan kanopi jati yang kokoh di kawasan Blora Selatan, sebuah narasi besar sedang ditulis ulang. Bukan lagi sekadar tentang berapa kubik kayu yang bisa dipanen, melainkan tentang bagaimana menjaga detak jantung ekosistem agar tetap seirama dengan kebutuhan ekonomi dan napas spiritual masyarakatnya. Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Randublatung kini tengah berada di garda depan, menggeser paradigma lama menuju pengelolaan hutan yang lebih memanusiakan alam dan memberdayakan manusia.
Hutan Sebagai Fondasi Eksistensi
Administratur KPH Randublatung, Heri M. Putra, melihat kawasan hutan bukan sebagai komoditas mati yang menunggu ditebang. Dalam sebuah perbincangan mendalam, ia menegaskan bahwa hutan adalah urat nadi yang mengalirkan air, menopang tanah, dan memurnikan udara bagi ribuan jiwa di sekitarnya. Strategi yang diusung bukan lagi sekadar eksploitasi, melainkan sebuah simfoni pengelolaan yang mencakup rehabilitasi lahan pasca-pemanfaatan serta perlindungan ketat dari tangan-tangan jahil pembalakan liar.
Sertifikasi pengelolaan hutan produksi lestari kini menjadi "paspor" akuntabilitas yang membuktikan bahwa setiap batang kayu yang keluar telah melalui proses panjang yang menghargai hak-hak alam. Namun, Heri tidak berhenti di sana. Ia mendorong konsep multi-usaha kehutanan yang memungkinkan warga sekitar memanen berkah tanpa harus melukai pohon. Dari tetesan getah, manisnya madu hutan, hingga khasiat tanaman obat, semua dikelola untuk menciptakan resiliensi ekonomi masyarakat yang berbasis pada kelestarian.
Memutus Rantai Ketidakpedulian Generasi
Tantangan terbesar dalam menjaga hutan ternyata bukan hanya soal perubahan iklim atau tekanan ekonomi, melainkan ancaman amnesia ekologis pada generasi muda. Wakil ADM KPH Randublatung, Bambang Sunarto, menyadari bahwa tanpa adanya ikatan emosional antara remaja dan hutan, upaya konservasi sehebat apa pun akan runtuh di masa depan. Pergeseran model pengelolaan berbasis lanskap menjadi jawaban untuk menyeimbangkan kepentingan negara dan hak lingkungan.
Edukasi lingkungan kini bukan lagi sekadar teori di dalam kelas yang membosankan. KPH Randublatung mulai menggerakkan program-program yang memaksa para pelajar untuk menyentuh tanah, menghirup aroma hutan, dan memahami bahwa setiap pohon yang tumbuh adalah investasi oksigen untuk mereka sendiri. "Jika mereka paham nilai ekologisnya sejak dini, mereka tidak akan butuh diperintah untuk menjaga hutan; mereka akan menjaganya karena merasa memiliki," ungkap Bambang dengan nada optimis.
Partisipasi Publik dan Identitas Kolektif
Senada dengan visi pengelola, suara dari akar rumput yang diwakili oleh Iwan Blancak Ngilo dari Front Blora Selatan menekankan bahwa hutan jati adalah DNA bagi warga Blora. Baginya, hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan warisan historis dan identitas budaya. Iwan menyoroti pentingnya keterlibatan publik yang aktif, di mana pelajar bukan hanya menjadi objek edukasi, melainkan subjek perubahan melalui aksi nyata seperti penanaman kembali dan kampanye pengurangan produk kayu berlebihan.
Hubungan emosional yang terbangun melalui pengalaman langsung di hutan jati diharapkan mampu menciptakan benteng pertahanan alami terhadap upaya alih fungsi lahan yang tak terkendali. Pengawasan berbasis masyarakat yang dikolaborasikan dengan organisasi lingkungan menjadi jaring pengaman sosial yang memastikan tidak ada satu jengkal pun tanah hutan yang terlecehkan oleh kepentingan sesaat.
Warisan untuk Esok yang Lebih Hijau
Di tengah isu pemanasan global yang kian menghimpit, langkah Randublatung menjadi bukti nyata kontribusi lokal untuk dampak global. Hutan-hutan ini adalah penyerap karbon yang krusial, penyeimbang suhu bumi yang kian menua. Keberhasilan ini, menurut Heri, bukanlah sebuah sprint atau lari cepat, melainkan maraton panjang yang membutuhkan stamina kolaborasi lintas sektor yang kuat.
Apa yang dilakukan di Randublatung saat ini adalah sebuah janji kepada generasi mendatang. Bahwa kelak, anak cucu mereka masih bisa berteduh di bawah rindangnya jati, meminum air dari mata air yang terjaga, dan bangga menyebut diri mereka sebagai bagian dari masyarakat hutan yang beradab. Inilah perjuangan pembangunan manusia seutuhnya, sebuah pembangunan yang tidak hanya memoles raga, tetapi juga menyentuh jiwa melalui harmoni dengan alam semesta berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila.
Mari kita ambil bagian dalam menjaga warisan ekologis Blora! Dukung upaya pelestarian hutan jati Randublatung dengan mulai peduli pada lingkungan sekitar dan terlibat aktif dalam setiap gerakan penghijauan. Karena setiap pohon yang kita tanam hari ini adalah napas bagi anak cucu kita di masa depan. Salam Lestari!
.jpg)