Eko Arifianto rilis buku SAMIN, BLORA, DAN KISAH-KISAH ERA KOLONIAL. Sebuah dokumentasi sejarah sosial 1825–1950 hasil riset mendalam selama 23 tahun.
BLORA – Sejarah seringkali ditulis oleh para pemenang di atas kertas-kertas mewah di istana gubernur jenderal, namun di tangan Eko Arifianto, sejarah dikembalikan kepada pemilik aslinya, para petani, pengangon kerbau, dan pejuang sunyi dari pedalaman hutan jati. Melalui karya monumental bertajuk SAMIN, BLORA, DAN KISAH-KISAH ERA KOLONIAL, Fragmen Sejarah Sosial dan Perlawanan Kultural di Jawa (1825–1950), aktivis kawakan yang akrab disapa KOTAK 33 ini menyuguhkan sebuah narasi tanding yang mengguncang kesadaran kolektif.
Lahirnya buku ini menjadi sebuah peristiwa literasi yang dramatis. Sejak tahun 2003, Eko telah merajut kepingan informasi, mewawancarai sesepuh, dan membedah arsip-arsip berdebu. Namun, sebuah tragedi digital hampir saja memusnahkan segalanya. Kerusakan sistem operasi komputer melenyapkan seluruh data yang ia simpan di hardisk. Trauma mendalam tersebut justru menjadi pemantik api semangat yang lebih besar. Eko bangkit, menyusun kembali puzzle ingatan yang hilang, dan memutuskan untuk mengabadikannya dalam bentuk cetak agar tak lagi lekang oleh kegagalan teknologi.
Anatomi Perlawanan di Bawah Bayang-bayang Jati
Buku ini membagi garis waktu menjadi fragmen-fragmen yang sangat detail. Dimulai dari periode pasca-Perang Jawa (1825-1859), Eko membawa pembaca menyusuri jejak gerilyawan di Alas Kidul hingga misteri Kutukan Kesongo. Ia tidak hanya bicara tentang angka-angka statistik kolonial, melainkan tentang rasa lapar, bau tembakau di serambi residen, dan rintihan hutan jati yang mulai diklaim sebagai milik negara.
Masuk ke periode 1859-1890, narasi mulai bergeser pada awal perlawanan kultural. Di sini, tokoh-tokoh seperti Noyo Gimbal dan embrio pemikiran Samin Surosentiko mulai muncul ke permukaan. Eko dengan sangat jeli memotret bagaimana pajak kepala, monopoli garam, dan sistem kerja paksa blandong menjadi mesin penindas yang kemudian melahirkan sebuah antitesis berupa kejujuran radikal.
Mengapa Samin Tetap Relevan?
Daya tarik utama karya Eko terletak pada kemampuannya menyentuh aspek psikologi sosial masyarakat Blora. Ia memahami bahwa gerakan Samin bukan sekadar penolakan membayar pajak, melainkan sebuah mekanisme pertahanan harga diri yang sangat dalam. Melalui sub-judul seperti "Wong Mandi Unine Dewe" atau "Pajeg, Sipatan Sing Jejeg", Eko menjelaskan bahwa bagi orang Samin, kata-kata adalah mandat suci dan tanah adalah identitas diri yang tak bisa diganggu gugat oleh hukum formal Belanda yang seringkali manipulatif.
Eko menyoroti periode 1890-1907 sebagai puncak ketegangan. Ia memaparkan bagaimana birokrasi kolonial yang "letih" menghadapi ketenangan para pengikut Samin. Pemerintah Hindia Belanda saat itu nampak frustrasi karena senjata dan penjara tak mampu mematahkan prinsip Adam yang dianut masyarakat pedalaman. Inilah yang oleh Eko disebut sebagai dua cara membaca dunia yang saling bertabrakan, logika akumulasi kolonial versus logika harmoni masyarakat lokal.
Dokumentasi dari Bawah untuk Masa Depan
Sebagai seorang penulis yang menaruh perhatian pada dinamika perlawanan kultural, Eko Arifianto menggunakan pendekatan dari bawah (history from below). Ia menghindari jargon-jargon akademis yang menjemukan, melainkan memilih gaya narasi reflektif yang membuat pembaca seolah hadir dalam sidang Landraad Blora tahun 1907 atau merasakan suasana pasar malam di alun-alun tahun 1934.
Buku ini merupakan warisan penting bagi pembangunan manusia Cepu Raya seutuhnya. Dengan memahami sejarah sosial ini, masyarakat masa kini diajak untuk merawat memori sosial dan membuka ruang pembacaan kritis atas masa lalu. Nilai-nilai Pancasila yang kita junjung saat ini sejatinya memiliki akar yang kuat pada kejujuran dan kegotongroyongan yang telah dipraktikkan oleh para leluhur di tanah kapur ini.
Eko Arifianto telah menyelesaikan tugasnya sebagai penjaga ingatan. Kini, bola berada di tangan kita untuk membaca, meresapi, dan meneruskan semangat pencarian kebenaran tersebut demi masa depan Blora yang lebih bermartabat.
Apakah Anda siap menyelami labirin sejarah yang selama ini tersembunyi di balik rimbunnya jati Blora? Segera dapatkan buku ini dan jadilah bagian dari gerakan merawat memori bangsa!
