Kolaborasi epik mahasiswa STTR, IAI Al Muhammad Cepu, dan tokoh masyarakat Sambong hadirkan kebahagiaan bagi disabilitas di Desa Giyanti.
SAMBONG, Penyelenggaraan kesejahteraan sosial di wilayah Kecamatan Sambong kembali mencatatkan momentum emas melalui sebuah kolaborasi unik yang melibatkan berbagai elemen bangsa. Pada Kamis (26/02/2026), Program Bansos Mandiri di Desa Giyanti menjadi saksi bagaimana perbedaan latar belakang bukan lagi pembatas, melainkan kekuatan yang saling menggenapi. Gerakan ini merupakan hasil inisiasi strategis dari Heri Ireng, seorang Penyuluh Sosial Dayamas Kemensos RI, yang mencoba merajut komunikasi antara dunia usaha, pemerintah desa, hingga institusi pendidikan tinggi di Cepu Raya.
Dukungan penuh mengalir deras dari Suma Novendi selaku pengusaha SPBU Sambong yang berdiri di garis depan sebagai penyokong utama dari sektor swasta. Sinergi ini semakin solid dengan sambutan terbuka dari Kepala Desa Giyanti, Wahono, yang memastikan bahwa setiap langkah koordinasi berjalan mulus di lapangan. Pertemuan antara kebijakan birokrasi desa dan kepedulian dunia usaha ini menciptakan ekosistem bantuan yang mandiri serta berkelanjutan, membuktikan bahwa pembangunan manusia seutuhnya adalah tanggung jawab kolektif seluruh komponen bangsa.
Intelektual Muda dan Ujian Mentalitas di Medan Berlumpur
Pemandangan menarik terlihat saat para mahasiswa dari dua kampus berbeda, yaitu STTR Cepu dan IAI Al Muhammad Cepu, melebur menjadi satu tim yang solid. Mahasiswa yang tergabung dalam HMJ Teknik Sipil serta BEM STTR Cepu tampak akrab bekerja sama dengan Kelompok KKN 'Banyu Kendi' IAI Al Muhammad Cepu. Mereka tidak hanya membawa bantuan fisik berupa perlengkapan Activity Daily Living (ADL) dan bahan makanan, namun juga membawa semangat progresif serta idealisme yang menyala. Penyaluran bantuan ini menyasar empat penerima manfaat dengan kondisi khusus, mulai dari penyandang tuna netra hingga penyandang cacat berat.
Tantangan nyata hadir dalam bentuk akses jalan tanah yang becek dan licin akibat sisa hujan. Namun, medan berat tersebut justru menjadi bumbu penyedap yang menambah keceriaan para mahasiswa. Tidak ada sedikit pun raut gelisah meskipun mereka harus berjuang menyeimbangkan langkah di atas lumpur sore hari sambil menjalankan ibadah puasa. Kegembiraan terpancar jelas saat mereka menyerahkan bantuan spesifik, termasuk pembalut wanita bagi seorang gadis penyandang cacat berat, yang menunjukkan betapa detail dan menyentuhnya perhatian yang diberikan oleh para intelektual muda ini.
Kebahagiaan Kolektif Pondasi Capaian Kemanusiaan
Keberhasilan aksi sosial ini menciptakan efek kebahagiaan yang bersifat menyeluruh bagi semua pihak yang terlibat. Para penerima bantuan merasakan keharuan mendalam atas kejutan yang mereka terima, sementara para mahasiswa merasa mendapatkan kepuasan batin yang luar biasa melalui pengalaman lapangan yang autentik. Pihak kampus pun memberikan apresiasi tinggi atas keberanian mahasiswa turun langsung ke akar rumput. Di sisi lain, Suma Novendi dan Kepala Desa Wahono selaku sistem pendukung utama merasa bangga karena sinergi ini mampu memberikan dampak nyata bagi warga yang paling membutuhkan.
Meskipun sebuah gerakan sosial mungkin mustahil memuaskan ekspektasi setiap individu secara sempurna, namun keberhasilan menyenangkan banyak orang merupakan pencapaian yang sangat bernilai. Kondisi ini menjadi fondasi kokoh bagi kepedulian sosial di masa depan, di mana tindakan nyata bagi lansia dan penyandang disabilitas di Indonesia bukan lagi sekadar wacana. Melalui kolaborasi lintas batas ini, martabat kemanusiaan diangkat setinggi mungkin demi mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, serta saling menjaga dalam bingkai persatuan nasional yang kuat.
Mahasiswa yang Turut Bersinergi
Perwakilan dari STTR Cepu, Rendi Dwi Prasetyo (Presiden BEM STTR Cepu), Andika Nur Ananda Putra (Ketua HMJ Teknik Sipil), Nugroho Budi Santoso (Bendahara HMJ), Ita Nur Cahyati, Nadin Kusuma Wardani, Novita Setya Mulyanti, Karina Meylani Putri, Khoyimatur Rohmah, Dimas Bagus Aryanto, Ahmad Daros Wahyudi, Ahmad Zaidan Najib Chabillah, Raditiya Rzky Yulianto dan Elang Luqmanul Hasyim.
Sedangkan Kelompok KKN ‘Banyu Kendi’ IAI Al Muhammad terdiri dari Umi Habibah, Muhammad Fahmi Kamil Pramudya, Ziko Luqmanul Hasyim, Evi Baharani, Irsyadita Beti Selia, Ziko Luqmanul Hasyim, Trisnia Dwi Alifah, Devita Eliana, M. Fadhol Nur Ahsani, Vitriani, Munir Setyo Aji dan Hilma Nailul Muna.
Mari kita terus jaga api kolaborasi ini! Bagikan kisah inspiratif sinergi lintas batas ini agar semakin banyak tangan yang tergerak untuk membangun kemandirian sesama.



