Warga Desa Krocok rayakan tuntasnya pembangunan jalan Bradag-Srigading bersama Bupati Arief Rohman lewat tradisi tumpengan dan doa bersama.
JAPAH - Bau tanah basah sisa hujan sore itu kalah telah oleh aroma gurih nasi tumpeng yang berderet rapi di atas hamparan jalan beton baru. Di Desa Krocok, Kecamatan Japah, Senin (23/2/2026), jalan raya bukan lagi sekadar jalur perlintasan kendaraan, melainkan meja perjamuan raksasa tempat syukur tumpah ruah. Ratusan pasang mata warga berkaca-kaca menatap permukaan jalan ruas Bradag-Krocok-Srigading yang kini menghitam mulus, meninggalkan memori kelam tentang kubangan lumpur dan debu yang bertahun-tahun menghantui langkah mereka.
Suasana sakral mulai terasa saat Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, melangkah turun dan menyapa warga dengan kehangatan yang cair. Tidak ada sekat protokoler yang kaku. Di bawah langit Japah yang mulai meredup, prosesi pemotongan pita menjadi simbol runtuhnya isolasi infrastruktur yang selama ini membelenggu potensi desa. Saat tumpeng dipotong dan doa dipanjatkan, ada getaran emosional yang kuat antara pemimpin dan rakyatnya, sebuah validasi atas kesabaran warga yang akhirnya berbuah manis.
Komitmen di Tengah Keterbatasan Anggaran
Kehadiran Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, bersama jajaran Forkopimda memberikan sinyal kuat bahwa pembangunan ini merupakan kerja kolektif yang terukur. Di hadapan warga yang duduk bersila di atas beton jalan, Bupati Arief Rohman menyampaikan orasi yang menyentuh sisi psikologis masyarakat. Ia mengakui bahwa perjalanan membenahi infrastruktur di Blora menyerupai lari maraton yang menantang, mengingat luas wilayah yang luar biasa besar dan dinamika anggaran yang fluktuatif.
"Kami berterima kasih kepada Pak Lurah, tokoh masyarakat, dan seluruh warga Krocok atas kekompakannya yang luar biasa," ujar Bupati dengan nada yang mantap. Ia secara jujur memaparkan realita pahit mengenai pemotongan anggaran hingga lebih dari Rp370 miliar pada tahun ini. Namun, kejujuran tersebut justru membangun kepercayaan (trust) di tingkat akar rumput. Di tengah defisit tersebut, pemerintah daerah tetap berhasil menggelontorkan hampir Rp400 miliar pada tahun pertama demi memastikan roda ekonomi desa tidak berhenti berputar.
Visi "Mulus Kabeh" dan Spirit Gotong Royong
Narasi pembangunan yang diusung bukan hanya soal fisik beton, melainkan upaya memanusiakan warga melalui aksesibilitas yang layak. Bupati menegaskan bahwa impian "mugi-mugi dalane alus kabeh" tetap menjadi komando utama dalam empat tahun ke depan. Ia pun mengajak warga untuk menyelaraskan gerak dengan program pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden RI, menciptakan sinergi pembangunan yang linier dari tingkat desa hingga nasional.
Kepala Desa Krocok, dalam sapaan singkatnya yang penuh haru, mewakili denyut nadi harapan masyarakat. "Matur nuwun Pak Arief, harapan masyarakat sudah tercapai," ungkapnya. Meski demikian, aspirasi tetap mengalir secara sehat, seperti permintaan pengurugan bahu jalan demi keamanan berpapasan kendaraan. Ini menunjukkan bahwa warga telah memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga dan meningkatkan kualitas aset publik yang telah diberikan.
Kesalehan Sosial di Balik Seremonial
Acara tidak berhenti pada urusan aspal dan beton semata. Sisi spirituil dan kemanusiaan tetap menjadi ruh utama dalam agenda "Bora Menyapa" kali ini. Di sela-sela kegembiraan peresmian jalan, Bupati dan Wakil Bupati menyempatkan diri menyerahkan bantuan kepada takmir masjid, santunan bagi para lansia, serta bantuan sosial bagi anak-anak yang membutuhkan. Momen ini menegaskan bahwa pembangunan manusia seutuhnya harus menyentuh aspek materiil berupa jalan yang layak dan aspek spirituil berupa kepedulian sosial yang hangat.
Menjelang waktu berbuka, suasana semakin syahdu. Buka puasa bersama di atas jalan cor tersebut menjadi puncak dari segala prosesi. Di sana, di atas infrastruktur yang baru saja lahir, warga dan pemimpin duduk setara, berbagi makanan dan cerita, merayakan sebuah kemenangan kecil yang akan menjadi fondasi besar bagi kemajuan ekonomi di Kecamatan Japah.


