Anggota DPRD Blora Mujoko menuntut transparansi kontraktor Pertamina terkait mobilisasi alat berat yang mengancam Jembatan Kedung Sambil.
BLORA– Kesunyian jalur strategis Randublatung–Kradenan mendadak berubah menjadi pusat perhatian publik menyusul aktivitas mobilisasi alat berat yang masif untuk proyek milik PT Pertamina (Persero). Meski pembangunan tersebut diakui sebagai bagian dari kepentingan strategis nasional, pelaksanaannya di lapangan kini memicu kekhawatiran serius terhadap ketahanan infrastruktur daerah. Jembatan Kedung Sambil, yang menjadi urat nadi ekonomi warga, disinyalir berada dalam ancaman kerusakan akibat beban kendaraan yang melampaui kelas jalan.
Anggota DPRD Kabupaten Blora dari Fraksi PDI Perjuangan, Mujoko, menegaskan bahwa persoalan ini bukan merupakan bentuk penolakan terhadap pembangunan. Menurutnya, masyarakat Blora, khususnya di wilayah Kradenan dan Randublatung, memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya proyek energi bagi negara. Permasalahan mendasar justru terletak pada aspek transparansi dan kepatuhan teknis yang dilakukan oleh para pelaksana lapangan atau pihak kontraktor.
Anatomi Tanggung Jawab, Di Mana Rantai Komando Kontraktor?
Dalam struktur proyek berskala besar, keterlibatan pihak ketiga sebagai kontraktor pelaksana merupakan hal yang lazim. Namun, Mujoko menyoroti adanya ruang gelap mengenai identitas dan tanggung jawab teknis kontraktor yang menangani mobilisasi alat berat tersebut. Kontraktor seharusnya memiliki perencanaan matang yang mencakup pengurusan izin dispensasi kendaraan berat serta rekomendasi teknis dari instansi terkait sebelum roda alat berat menyentuh aspal jalur Randublatung.
"Hingga saat ini, belum terdapat penjelasan terbuka mengenai siapa kontraktor yang bertanggung jawab langsung atas mobilisasi alat berat tersebut," tegas Mujoko saat ditemui di Blora, Minggu (29/3). Menurutnya, mekanisme pengawasan harus dipastikan berjalan karena tanggung jawab hukum dan sosial melekat pada pelaksana, bukan hanya berhenti pada pemilik proyek. Ketidakjelasan ini menimbulkan spekulasi mengenai adanya celah koordinasi yang berpotensi merugikan fasilitas publik.
Risiko Sistemik dan Kerapuhan Infrastruktur Lokal
Kekhawatiran Mujoko didasari oleh rekam jejak infrastruktur di wilayah Randublatung yang memiliki tingkat kerentanan tinggi. Tekanan beban yang berlebihan tanpa mitigasi matang dipastikan mempercepat laju kerusakan jalan dan jembatan. Jembatan Kedung Sambil kini menjadi titik krusial yang dipantau secara ketat, mengingat perannya sebagai akses vital bagi kegiatan pertanian dan mobilitas ekonomi masyarakat antar kecamatan.
Pengalaman pahit masa lalu menjadi pengingat yang nyata bagi warga. Saat sebuah jembatan mengalami kerusakan atau putus, aktivitas masyarakat dipastikan lumpuh total. Pengalihan arus ke jalur alternatif yang lebih jauh dan berisiko hanya akan menambah beban biaya hidup warga. Oleh karena itu, mobilisasi alat berat tanpa didasari audit kelayakan jalan merupakan langkah yang sangat berisiko bagi stabilitas wilayah.
Menuntut Audit Teknis dan Keterbukaan Dokumen Perizinan
Guna meredam keresahan yang mulai meluas, Mujoko mendesak adanya evaluasi menyeluruh dari berbagai pemangku kepentingan. Peran aktif dari Dinas Perhubungan Kabupaten Blora, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta aparat kepolisian setempat sangat dinantikan untuk menjalankan fungsi pengendalian di lapangan. Kepatuhan terhadap regulasi kelas jalan harus menjadi harga mati yang tidak boleh ditawar oleh kepentingan proyek sesaat.
Langkah konkret yang mendesak untuk dilakukan adalah pelaksanaan audit teknis terhadap kondisi terkini Jembatan Kedung Sambil serta transparansi dokumen perizinan kepada publik. Keterbukaan informasi ini dianggap sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan profesional dari PT Pertamina dan mitra kontraktornya. Pembangunan yang sukses seharusnya tidak meninggalkan jejak kerusakan yang membebani masyarakat lokal di kemudian hari.
Kawal terus kelestarian infrastruktur kita! Bagikan artikel ini agar pihak terkait segera memberikan jawaban transparan dan aksi nyata demi keselamatan Jembatan Kedung Sambil. Suarakan pendapat Anda!



