Penguatan pesantren menjadi pilar utama pencalonan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (...
Penguatan pesantren menjadi pilar utama pencalonan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang. Bagi pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda-Kajen, Pati, Jawa Tengah, ini bukan sekadar program politik organisasi, melainkan kelanjutan dari pengabdian panjang yang telah ia jalani selama bertahun-tahun di dunia kepesantrenan.
Gus Rozin memandang pesantren sebagai jantung Nahdlatul Ulama yang berperan strategis dalam menjaga kesinambungan kaderisasi ulama, pembentukan karakter santri, serta pewarisan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah. Karena itu, penguatan pesantren dinilai tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun masa depan organisasi.
"Pesantren adalah jantung Nahdlatul Ulama. Dari sanalah ulama dilahirkan, kader ditempa, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah diwariskan," ujar Gus Rozin yang juga menjabat Ketua PWNU Jawa Tengah.
Menurut dia, perhatian terhadap pesantren tidak cukup berhenti pada pembangunan sarana dan prasarana. Pesantren membutuhkan dukungan menyeluruh yang mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan tata kelola kelembagaan, pengembangan kurikulum pendidikan, pemanfaatan teknologi, hingga penguatan ekonomi pesantren.
"Pesantren harus mampu menjawab tantangan zaman, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan karakter dan tradisi keilmuannya. Karena itu, penguatan pesantren harus dilakukan secara menyeluruh," tegasnya.
Rekam Jejak di RMI dan Majelis Masyayikh
Rekam jejak Gus Rozin di bidang kepesantrenan terbilang mapan dan terukur. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU Jawa Tengah periode 2013-2015, sebelum kemudian dipercaya memimpin RMI PBNU pada periode 2015-2021. Sebelumnya, ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua LP Ma'arif PBNU periode 2010-2013.
Selama berkhidmah di RMI, sejumlah agenda strategis berhasil dijalankan. Di antaranya pengawalan lahirnya Undang-Undang Pesantren pada 2014-2019, pembentukan Liga Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, peringatan Hari Santri Nasional, serta Apel Akbar Santri Nusantara. Tak ketinggalan, program Gerakan Pesantrenku Bersih dan Pesantren Keren yang diarahkan untuk mendorong peningkatan kualitas lingkungan dan tata kelola kehidupan pesantren.
Pengabdiannya juga merambah pada program-program sosial kemanusiaan, seperti Satkor Covid RMI PBNU, Kado Lebaran untuk Guru Ngaji, Gerakan Pesantren Asuh bagi Anak Yatim Indonesia, hingga program beasiswa LPDP bagi santri.
Komitmen tersebut berlanjut melalui perannya sebagai Ketua Majelis Masyayikh, lembaga yang berkaitan dengan pengembangan dan penjaminan mutu pendidikan pesantren. Paling mutakhir, PWNU Jawa Tengah juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam membuka Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren 2026 bagi santri asal Jawa Tengah.
"Penguatan pesantren bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu periode. Ini merupakan proses panjang yang membutuhkan kesinambungan, kolaborasi, dan komitmen bersama," kata Gus Rozin.
Penguatan Ekosistem dan Perhatian dari Daerah
Gagasan penguatan pesantren juga mendapat perhatian serius dari struktur NU di daerah. Dalam pertemuan bersama PWNU dan PCNU se-Nanggroe Aceh Darussalam pada 19 Agustus 2026, Rais Syuriyah PCNU Aceh Tengah menekankan pentingnya pembangunan NU yang tetap bertumpu pada akar utamanya, yakni pesantren.
Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh, Tengku Haji Faisal Ali, menilai pengalaman panjang Gus Rozin sebagai pimpinan pondok pesantren serta pengalamannya di berbagai organisasi kepesantrenan menjadi modal penting untuk memahami persoalan pendidikan, pembinaan generasi muda, dan tantangan yang dihadapi pesantren saat ini.
Bagi Gus Rozin, masa depan pesantren tidak dapat dipisahkan dari masa depan Nahdlatul Ulama. PBNU ke depan dinilai perlu hadir tidak hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui pelayanan, pendampingan, dan penguatan kapasitas pesantren yang berkembang di tengah masyarakat.
"Kita harus membangun ekosistem. Kekuatan yang sudah dimiliki satu pesantren atau satu cabang harus bisa menjadi kekuatan bagi yang lain. Dengan begitu, pesantren tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling belajar dan saling menguatkan," tuturnya.
Gagasan tersebut juga mencakup perhatian terhadap pesantren di daerah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses terhadap berbagai sumber daya, termasuk pesantren di wilayah pedalaman dan luar Jawa yang membutuhkan pendampingan serta dukungan agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
Membangun NU dari Bawah melalui Kemandirian Jamaah
Gus Rozin berpandangan bahwa membesarkan NU tidak semata-mata berbicara tentang membesarkan struktur organisasi. Lebih jauh, NU perlu memperkuat kemampuan jamaah dalam membangun berbagai lembaga yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
"Kalau kita ingin membesarkan NU, maka yang harus diperkuat adalah kemampuan jamaah. Jamaah harus mampu membangun dan mengembangkan pesantren, sekolah, rumah sakit, usaha, dan berbagai lembaga yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat," katanya.
Dengan pendekatan tersebut, penguatan pesantren ditempatkan sebagai bagian dari agenda yang lebih luas untuk membangun NU dari bawah, melalui kekuatan jamaah dan lembaga-lembaga yang tumbuh di tengah masyarakat. Pesantren tidak hanya dipandang sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat kaderisasi, pemberdayaan masyarakat, dan penjaga tradisi keilmuan NU.
Menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, rekam jejak tersebut menjadi bagian dari tawaran Gus Rozin kepada para muktamirin. Ia membawa pengalaman panjang di RMI, pendidikan pesantren, penguatan kebijakan kepesantrenan, hingga Majelis Masyayikh sebagai modal untuk menawarkan agenda penguatan pesantren sebagai salah satu fondasi kepemimpinan PBNU ke depan.
Bagi Gus Rozin, pesantren bukan sekadar salah satu program yang perlu diperhatikan. Pesantren merupakan bagian dari akar sejarah, kaderisasi, dan masa depan Nahdlatul Ulama.