BLORA — Ada dua wajah kemerdekaan di bulan Agustus. Satu wajah terlihat dari bawah. Dari sudut kampung yang remang, dari tangan kasar warga ...
BLORA — Ada dua wajah kemerdekaan di bulan Agustus.
Satu wajah terlihat dari bawah. Dari sudut kampung yang remang, dari tangan kasar warga yang menyikat selokan, dari ibu - ibu yang menghitung uang iuran untuk membeli tepung dan minyak goreng. Di sana, kemerdekaan dirayakan dengan penuh cinta meski kantong tipis, meski harus berhemat, meski hadiah lomba hanya sebungkus mie instan dan secarik piagam.
Wajah lainnya terlihat dari atas. Dari panggung megah yang berdiri dengan biaya menggunung. Dari tenda ber-AC yang dipasang untuk satu jam seremonial. Dari anggaran yang mengalir deras untuk hiburan, untuk konsumsi mewah, untuk kemeriahan yang sering kali lebih terasa sebagai "panggung pencitraan" daripada penghormatan kepada perjuangan.
Dan di antara dua wajah itu, ada jarak yang menganga.
Ketika Anak-Anak Mengajar Kita Arti Mengisi
Di sebuah lapangan kecil, puluhan anak berkumpul. Matanya berbinar. Di hadapan mereka, deretan botol plastik bekas dan ember air. Perlombaan "mengisi air" pun dimulai.
Dengan sendok yang bocor, dengan pipet kecil, dengan tangan mungil yang gemetar menahan keseimbangan,mereka berlari bolak-balik, berusaha memindahkan air dari satu wadah ke wadah lain. Sebagian besar air tumpah di jalan. Hanya sedikit yang sampai tujuan. Tapi mereka tertawa, mereka bersemangat, mereka tak pernah menyerah meski baju basah dan napas tersengal.
Dan di sana, di tengah tawa anak-anak itu, tersembunyi pelajaran yang dalam:
Mengisi kemerdekaan butuh kesabaran. Butuh ketelitian. Butuh perjuangan yang tak jarang tumpah sia-sia. Tapi yang terpenting butuh kejujuran. Karena jika airnya dicurangi, jika sendoknya diganti gayung besar, maka perlombaan kehilangan maknanya.
Pertanyaannya: apakah para pejabat yang duduk di kursi kekuasaan masih paham pelajaran itu?
Menohok, tapi Jujur: Ada yang Tak Beres
Rakyat tidak butuh panggung megah. Mereka butuh listrik yang menyala di kampungnya. Mereka butuh jalan yang tidak berlubang. Mereka butuh sekolah yang layak untuk anak-anak mereka.
Tapi yang terjadi? Anggaran peringatan HUT RI sering kali membengkak di luar nalar. Fee artis, dekorasi spektakuler, jamuan makan yang berlimpah dan sementara di sisi lain, warga masih mengerjakan uang iuran dengan susah payah hanya untuk membeli cat gapura.
Apakah ini adil?
Bukan berarti kita tidak boleh merayakan. Tapi perayaan yang membanggakan seharusnya adalah perayaan yang dirasakan manfaatnya oleh rakyat, bukan yang hanya membuat beberapa orang berdecak kagum sejenak, lalu lupa esok harinya.
Teladan yang Hilang, Kepercayaan yang Tergerus
Ketika pejabat datang ke acara kampung, yang diharapkan bukanlah pidato panjang atau foto di panggung utama. Yang diharapkan adalah keteladanan. Tapi ketika rakyat melihat mobil dinas berjejer, konsumsi berlebih, dan gaya hidup yang jauh dari kesederhanaan,maka kepercayaan itu tergerus, sedikit demi sedikit.
Dan di saat itulah kemerdekaan kehilangan ruhnya.
Kemerdekaan bukan tentang besar kecilnya anggaran. Bukan tentang berapa banyak panggung yang didirikan. Bukan tentang seberapa mewah hidangan yang disajikan.
Kemerdekaan adalah tentang apakah rakyat merasa dihormati. Apakah mereka merasa bahwa uang pajaknya dikelola dengan penuh tanggung jawab. Apakah mereka melihat pemimpinnya bersedia berbagi susah, bukan hanya berbagi senang.
Pesan dari Lomba Mengisi Air untuk Para Pejabat
Lihatlah anak-anak itu.
Mereka tidak menang karena sendoknya besar. Mereka menang karena teliti. Karena sabar. Karena jujur dalam setiap tetes yang mereka pindahkan.
Begitu pula dengan mengelola keuangan negara. Bukan jumlah anggaran yang membuat sebuah acara bermakna. Tapi bagaimana setiap rupiah dipertanggungjawabkan, bagaimana setiap keputusan memihak pada kepentingan rakyat, bagaimana setiap perayaan tidak pernah melupakan bahwa di luar sana, ada ibu-ibu yang masih menghitung-hitung belanja hari ini.
Pada Akhirnya, Kemerdekaan Adalah Kepercayaan
Rakyat masih mau bergotong royong. Rakyat masih mau beriuran. Rakyat masih mau merayakan dengan sederhana. Itu semua karena mereka mencintai kemerdekaan.
Tapi cinta itu akan memudar jika yang mereka lihat adalah kemewahan yang berlebihan dari mereka yang seharusnya menjadi teladan.
Agustus ini, mari bertanya pada diri sendiri: Apakah peringatan kemerdekaan yang kita buat benar - benar menghormati pengorbanan pahlawan, atau justru mengkhianatinya dengan pemborosan?
Karena kemerdekaan yang sejati tidak terukur dari tinggi panggung, melainkan dari rendah hati para pemimpinnya untuk duduk bersama rakyat di lantai yang sama.
Dan saat anak-anak berlari dengan sendok bocor di tangannya, mereka mengingatkan kita:
Air yang tumpah tak akan kembali. Seperti kepercayaan rakyat, jika tercecer—sulit untuk dikumpulkan lagi.
Selamat Merdeka. Marilah merayakannya dengan cara yang membuat para pahlawan tersenyum di surga, bukan menghela napas dari kejauhan.
Oleh: Seorang Warga yang Masih Berharap pada Keteladanan