BLORA — Musim kemarau tahun ini datang lebih garang. Matahari membakar tanah tanpa ampun, sumur-sumur warga perlahan mengering, dan ladang-l...
BLORA — Musim kemarau tahun ini datang lebih garang. Matahari membakar tanah tanpa ampun, sumur-sumur warga perlahan mengering, dan ladang-ladang jagung mulai menguning sebelum waktunya. Namun, di tengah deru panas yang menyengat, ada langkah kecil yang membawa harapan besar bagi warga Dukuh Cowekan, Desa Buloh, Kecamatan Kunduran.
Kehadiran di Tengah Kesulitan
Jumat pagi, 4 September 2026, pukul 09.00 WIB, suasana di Dukuh Cowekan tampak berbeda. Puluhan warga berkumpul di titik penampungan dengan membawa ember, jeriken, dan bak-bak plastik yang sudah lama menganga. Mereka menanti bukan sekadar air, melainkan uluran tangan yang selama ini mereka rindukan.
Polsek Kunduran Polres Blora hadir dengan membawa puluhan tangki air bersih. Dipimpin langsung oleh Kapolsek Kunduran, IPTU Budi Santoso, S.H., M.H., rombongan anggota Polsek tiba dengan membawa misi kemanusiaan yang sederhana namun bermakna: meringankan beban warga yang kehausan.
Kapolsek turun langsung, ikut menggulung selang, mengarahkan aliran air, dan sesekali bercengkerama dengan warga yang mengantre. Tak ada jarak. Tak ada seremoni berlebihan. Hadaplah secangkir kepedulian yang dibungkus kerja nyata.
"Kami di Sini untuk Merasakan"
Di sela-sela kesibukan, IPTU Budi Santoso menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial bakti sosial. Ia ingin polisi hadir bukan hanya sebagai penjaga keamanan, melainkan sebagai saudara yang ikut merasakan getirnya musim kemarau.
"Kehadiran Polri adalah untuk kemanusiaan. Kami turun bukan untuk dilihat, tapi untuk merasakan. Jika warga kesulitan, maka di situlah kami harus berdiri," ujarnya dengan nada yang teduh namun penuh ketegasan.
Ia juga menambahkan bahwa Polsek Kunduran akan terus memantau kondisi ketersediaan air bersih di wilayah Kecamatan Kunduran dan menyalurkan bantuan secara berkala selama musim kemarau masih berlangsung.
Raut Lega di Tengah Panas
Satu per satu ember dan jeriken terisi penuh. Air jernih yang mengalir dari tangki polisi menjadi pemandangan yang disambut syukur oleh para ibu dan bapak yang sejak pagi rela mengantre di bawah terik.
"Sudah seminggu kami susah dapat air, Mbak. Sumur di rumah mulai keruh dan baunya tidak enak. Anak-anak saya harus mandi pakai air yang kami beli dari desa sebelah. Hari ini saya tidak perlu ke mana-mana," tutur Sumiyati, seorang ibu rumah tangga warga setempat, dengan mata berbinar.
Bagi warga Dukuh Cowekan yang mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh tani, air bukan sekadar kebutuhan. Ia adalah denyut kehidupan yang menentukan apakah hari ini mereka bisa tersenyum atau terus bergumul dengan kehausan.
Aman dan Penuh Kebersamaan
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh kebersamaan. Tak ada desak-desakan, tak ada keluhan berlebihan. Warga dengan sabar menunggu giliran, sementara petugas bergantian mengisi penampungan air hingga akhirnya semua pulang dengan membawa bekal kehidupan di setiap wadah yang mereka bawa.
Kegiatan bakti sosial ini menjadi pengingat bahwa di kala alam sedang murka, kehadiran dan kepedulian sesama adalah sumber kehidupan yang tak pernah kering.
Dan ketika truk tangki terakhir melaju perlahan meninggalkan Dukuh Cowekan, yang tersisa bukan sekadar basah di tanah, melainkan kehangatan di hati warga—bahwa mereka tidak sendiri.