Opini tentang kritik LSM Jati Bumi di forum Setda Blora dan renungan andai menjadi Kadinas DP4
Embun pagi di pucuk pandan berduri itu turun pelan, seolah hendak mengingatkan, bening itu tak selalu lahir dari tempat yang lembut. Kadang justru dari duri-duri yang berpotensi menikam kulit, akan menyadarkan siapa saja bahwa kebenaran memang tak pernah sepenuhnya datang dari alam kedamaian.
Begitu juga suasana yang pernah terjadi di aula Setda Blora, Rabu (16/11) silam dan kini seakan telah hilang gaungnya—saat ketika suara forum mendadak sunyi, setenang embun yang baru saja menetes, saat Tejo Prabowo dari LSM Jati Bumi melontarkan kritik pedas ke jantung tata kelola pertanian dan pangan Kabupaten Blora. Sunyi yang bukan karena tak ada yang ingin bicara, namun karena semua nurani sedang menimbang kata-kata yang meletup bagai bara.
Andai pada saat itu saya adalah Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan—DP4— Blora, mungkin saya sontak menghela napas panjang. Sebab kritik itu—seperti embun di pucuk pandan duri—selalu menuntut keberanian untuk menerima dinginnya, untuk mengakui duri tajamnya.
Tejo bicara lantang. Tentang program bantuan yang tak berkelanjutan. Tentang sapi yang katanya berubah jadi Avanza. Tentang lele yang dibagi serampangan tanpa pengawasan. Tentang dinas teknis yang, menurutnya, hanya sekadar menghabiskan anggaran—asal dirasa tidak menyalahi aturan.
Kata-katanya menusuk, tapi justru di situlah letak hikmahnya. Sebening embun pagi, setajam tepian pandan berduri.
Andai saya Kadinas, saya akan segera berdiri. Bukan untuk membantah dengan gagah-gagahan, tetapi untuk membuktikan bahwa jabatan bukan sekadar kursi empuk tempat saya bersandar sampai punggung ini selalu merasa nyaman. Jabatan adalah amanah, dan amanah hanya sepadan bila ditempuh dengan keberanian memeriksa seluruh badan.
Andai saya Kadinas DP4 Blora…
Saya akan berkata,
“Embun takkan pernah memilih di mana jatuhnya. Tapi manusia berhak memilih apakah ingin menjadi cermin sejati atau sekedar menjadi kaca dinding kantor yang dilihat sambil lalu saja. Kritik hari ini bukan genderang perang, melainkan evaluasi yang terang benderang.”
Karena, memang benar, apa gunanya program bila tak berkelanjutan? Apa artinya bantuan bila tak menguatkan? Apa faedah anggaran bila hanya menggugurkan kewajiban?
Saya tidak ingin menjadi “Sinterklas” seperti sindiran itu.
Saya ingin menjadi penjamin keberlanjutan.
Penata langkah.
Penyambung harapan dunia pertanian, pangan, peternakan, perikanan.
Dan kalau memang perjalanan ini harus dimulai dari pengakuan atas kelemahan dinas yang saya pimpin itu, maka saya akan mulai semua dari situ. Dan, tidak semua perbaikan lahir dari kemenangan. Banyak lahir dari titik terendah, serendah tepian bengawan.
Andai saya Kadinas, saya tidak akan menyisir duri. Saya hanya akan membersihkan embunnya, agar segalanya menjadi terang, memaksa diri sendiri untuk melihat apa yang sebenarnya selama ini terjadi.
Dan bila suatu saat saya menyadari bahwa dinas butuh pemimpin baru dengan energi yang lebih segar, lebih bersih, lebih progresif, lebih independen, lebih mampu menjawab tantangan tata kelola ke depan—maka saya akan mundur dengan cara yang lebih elegan.
Saya tidak akan melihat kalah menang, tetapi melihat semua itu sebagai bagian dari keberanian, untuk memastikan publik mendapatkan apa yang dibutuhkan.
Karena jabatan bukan mahkota. Semua hanya sementara.
Yang abadi hanyalah integritas dan dedikasi kepada Blora.
Dan dedikasi, seperti embun di pucuk pandan berduri itu, selalu memilih jatuh pada siapa saja yang berani berdiri tegak—walau kulitnya harus menahan perihnya luka terlebih dulu.
.jpg)