Ketua DPRD Blora tegaskan dukungan penuh pengusulan Barongan ke UNESCO sebagai upaya melestarikan jati diri dan martabat budaya masyarakat Blora.
Di antara klaras daun jati yang basah dan aroma tanah Blora yang khas, ada suara yang lebih nyaring daripada deru mesin pun juga hiruk-pikuk politik praktis. Itulah suara kendhang dan slompret yang mengiringi gerak gagah Singo Barong. Namun, pada penghujung Januari 2026 ini, gema itu tidak lagi hanya berputar di sepanjang jalanan Kecamatan Sambong atau pusat kota Blora. Gema itu sedang diarahkan menuju sebuah gedung megah di Paris, Prancis, tempat di mana pengakuan dunia atas peradaban manusia divalidasi: UNESCO.
Jumat, 30 Januari 2026, menjadi momentum krusial bagi perjalanan kultural ini. Ketua DPRD Blora secara resmi menyatakan pasang badan untuk mengawal Seni Barongan agar diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) dunia. Langkah ini bukan sekadar mengejar sertifikat atau predikat mentereng, melainkan sebuah pernyataan politik kebudayaan bahwa Blora memiliki kontribusi nyata bagi kekayaan batin semesta.
Tak Sebatas Tarian, namun sudah Menjadi Jati Diri "Wong Blora"
Bagi masyarakat Blora, Barongan bukan sekadar tontonan di kala hajatan. Ia adalah manifestasi dari karakter rakyat yang tangguh, lugu, namun sarat akan keberanian. Ketua DPRD Blora menegaskan bahwa Barongan adalah "jati diri wong Blora". Dalam kacamata sosiologis yang mendalam, Barongan adalah perekat sosial yang menyatukan masyarakat dari berbagai strata melalui nilai-nilai spiritualitas dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
"Sudah selayaknya diperjuangkan agar mendapat pengakuan dunia," ujar Ketua DPRD Blora dengan nada penuh optimisme. Beliau menyadari bahwa di balik topeng kayu jati yang berat dan rumbai-rumbai kain yang berwarna-warni, tersimpan memori kolektif tentang perlawanan, kesetiaan, dan harmoni antara manusia dengan alam serta Sang Pencipta.
Komitmen Konkret Dari Anggaran Hingga Kebijakan
Dukungan yang diberikan legislatif kali ini tidak berhenti pada retorika manis di podium. Menyadari bahwa jalan menuju UNESCO adalah jalur birokrasi yang terjal dan penuh persyaratan ketat, DPRD Blora menyatakan kesiapannya untuk mengawal dari sisi regulasi dan penganggaran. Hal ini krusial, mengingat banyak aspirasi budaya seringkali layu sebelum berkembang karena terbentur tembok keterbatasan dana.
DPRD mendorong Pemerintah Kabupaten Blora untuk segera tancap gas menyiapkan berkas administratif, kajian akademik yang komprehensif, hingga pendokumentasian multimedia yang mumpuni. "Dukungan regulasi dan anggaran menjadi bagian penting agar proses ini tidak berhenti di tataran wacana," tegas Ketua DPRD. Ini adalah bentuk kerja nyata untuk memastikan bahwa infrastruktur kebudayaan kita sekuat semangat para senimannya.
Sinergi Lintas Sektor sebagai Kunci Utama
UNESCO menuntut lebih dari sekadar sejarah; mereka menuntut bukti bahwa sebuah budaya tetap "hidup" dan dicintai pemiliknya. Oleh karena itu, kolaborasi menjadi harga mati. Pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendirian. Dibutuhkan tangan-tangan dingin para akademisi untuk membedah filosofi Barongan, serta energi dari para pelaku seni dan komunitas budaya sebagai garda terdepan.
Ketua DPRD menekankan pentingnya melibatkan para seniman sejak tahap awal. Mereka bukan objek, melainkan subjek utama yang menjaga nafas tradisi ini tetap berdenyut. Tanpa keterlibatan aktif para pemegang warisan ini, pengakuan internasional hanya akan menjadi piala kosong tanpa makna.
Tantangan di Balik Gemuruh Gamelan
Meski optimisme membubung tinggi, tantangan nyata tetap membayangi. Kurangnya data tertulis sejarah Barongan yang sistematis, tantangan regenerasi di era digital, hingga konsistensi pembinaan menjadi "pekerjaan rumah" yang berat. Namun, bagi DPRD Blora, tantangan ini justru menjadi pemantik untuk menciptakan program pelestarian yang berkelanjutan.
"UNESCO bukan tujuan akhir, yang terpenting adalah keberlangsungan Barongan itu sendiri," jelasnya bijak. Filosofi ini menekankan bahwa pengakuan internasional hanyalah bonus; tujuan utamanya adalah memastikan anak cucu kita di masa depan masih bisa merasakan getaran magis saat Singo Barong mulai menari.
Dampak Multiplier Budaya yang Mensejahterakan
Jika impian ini terwujud, dampaknya akan terasa hingga ke dapur-dapur para seniman. Pengakuan UNESCO adalah magnet pariwisata internasional. Blora akan masuk dalam peta destinasi budaya dunia, yang secara otomatis akan memicu pertumbuhan ekonomi kreatif. Mulai dari pengrajin topeng, penjahit kostum, hingga sektor perhotelan dan kuliner akan ikut terkerek naik.
Ini adalah visi besar pembangunan manusia Blora yang seutuhnya—membangun mentalitas melalui kebanggaan budaya, sekaligus membangun ekonomi melalui pemanfaatan aset intelektual daerah. Dengan optimisme dan kerja keras, Singo Barong siap mengaum di kancah global, membawa nama harum Blora ke hadapan mata dunia.
