Bupati Blora resmikan SPPG Polres Blora 2 di Tempellemahbang. Dapur berstandar IPAL yang libatkan 45 tenaga lokal demi gizi berkualitas dan higienis
BLORA – Wajah Desa Tempellemahbang, Kecamatan Blora, tampak lebih bergairah pada Senin siang. Bukan sekadar seremoni biasa, kehadiran Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, beserta jajaran Forkopimda di sana menandai sebuah lompatan besar dalam strategi ketahanan pangan dan kualitas hidup manusia Blora. Peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Blora 2 menjadi bukti konkret bahwa urusan perut rakyat tidak boleh dikelola dengan sentuhan amatir.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut dibuka oleh Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ketegasan kepemimpinan di lapangan terlihat saat Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto, melepas armada distribusi MBG yang meluncur membawa harapan gizi bagi para penerima manfaat.
Standarisasi di Balik Dapur
Saat memasuki area dapur, aroma sedap masakan tak mampu menutupi kekaguman terhadap sistem yang dibangun. Dr. H. Arief Rohman memberikan perhatian khusus pada aspek yang sering terlupakan oleh banyak orang, yakni Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Bagi sang Bupati, sebuah dapur hebat bukan hanya soal rasa di lidah, namun soal bagaimana ekosistem di sekitarnya tetap terjaga.
“Mulai dari pengolahan bahan, proses memasak, sampai sanitasinya sudah sesuai standar. Ini krusial karena keamanan pangan dimulai dari kebersihan lingkungannya,” tegas Arief di sela-sela peninjauan.
Bupati menginginkan SPPG ini menjadi "laboratorium hidup" atau dapur percontohan. Pesannya jelas bahwa setiap butir nasi dan potongan lauk yang keluar dari sana harus melewati proses yang higienis dan berkelanjutan. Secara psikologis, kepastian kebersihan ini membangun kepercayaan publik yang sangat kuat terhadap program pemerintah.
Ekonomi Lokal yang Ikut 'Kenyang'
Dampak dari berdirinya SPPG ini tidak berhenti pada urusan metabolisme tubuh semata. Ada aspek pemberdayaan yang sangat cerdas di sini. Sebanyak 45 tenaga kerja yang menggerakkan operasional dapur adalah warga lokal sekitar lokasi. Langkah ini secara otomatis menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) di tengah masyarakat, sekaligus memicu sirkulasi ekonomi di tingkat desa yang lebih dinamis.
Kapolres Blora, AKBP Wawan Andi Susanto, menambahkan bahwa komitmen terhadap sanitasi adalah harga mati untuk menghindari risiko keracunan makanan. Dengan keberadaan IPAL di SPPG 1 maupun 2, Polres Blora ingin memastikan bahwa standar pelayanan yang diberikan adalah standar premium bagi masyarakat.
Uji Rasa dan Kualitas
Sebagai penutup rangkaian, rombongan mencicipi langsung sajian yang dihasilkan. Hasilnya memuaskan karena komposisi gizi dan cita rasa berada dalam keseimbangan yang tepat. Dengan pengawasan ketat dari Satgas MBG, SPPG Polres Blora 2 kini berdiri bukan sekadar sebagai penyedia makanan, melainkan sebagai monumen profesionalisme dalam pelayanan publik di Kabupaten Blora.



