Antisipasi antraks dari sisi manusia maupun hewan. Pendapat dari Edi Widayat dan Tejo Yuwono.
Blora - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blora, Edi Widayat, S.Pd, M.Kes, M.H, merespon kekhawatiran sebagian masyarakat terkait bahaya penyakit antraks sapi. Dalam keterangan pers-nya saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Blora pada Rabu (5/7/2023), Edi Widayat mengajak warga untuk lebih berhati-hati dalam memilih dan memasak daging sapi untuk dikonsumsi guna menghindari risiko penyakit tersebut.
Menurut Edi, kasus penularan antraks sapi tidak dapat dikategorikan sebagai endemi atau pandemi, penularan penyakit ini kepada manusia masih dianggap sebagai kasus yang jarang terjadi. "Jadi, hal ini termasuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa dan memang belum ada kasus antraks di Blora," ungkap Edi Widayat.
Tindakan Pencegahan yang Dapat Dilakukan
Dalam keterangannya, Edi Widayat menjelaskan bahwa antraks merupakan salah satu jenis penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia, seperti virus flu burung, virus Ebola, dan malaria. "Antraks sapi dapat menular melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, konsumsi produk makanan dari hewan yang terkontaminasi, atau melalui paparan lingkungan yang terkontaminasi. Bakteri antraks dapat bertahan dalam tanah dan lingkungan sekitar dalam bentuk spora. Hewan dapat terinfeksi bakteri ini melalui rumput yang dimakan atau air yang terkontaminasi," jelas Kepala DKK Blora.
Edi Widayat juga menekankan pentingnya tindakan antisipasi terhadap antraks, termasuk dalam pemilihan daging yang akan dikonsumsi. Ia menyarankan untuk memilih daging yang sehat dan memastikan memasaknya dengan benar guna menghindari risiko penularan penyakit tersebut.
"Jadi, sebagai langkah antisipasi, kita harus berhati-hati saat memilih daging yang akan dikonsumsi, pilih daging yang sehat, dan cara masaknya harus benar," ujar Edi Widayat.
Pencegahan dari Sisi Kesehatan Hewan
Di sisi lain, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan, DRH. Tejo Yuwono, menghimbau masyarakat Blora, terutama pemilik dan pengelola hewan ternak, untuk mengambil langkah-langkah antisipatif yang diperlukan. "Jika ada ternak sapi dan kambing yang mati, segera kubur dan semprotkan disinfektan di sekitarnya. Kami juga menyediakan disinfektan gratis di kantor," kata Tejo Yuwono, sambil mensosialisasikan keberadaan disinfektan gratis untuk penanganan kasus penyakit ternak. "Jika ada ternak yang sakit, segera hubungi petugas untuk penanganan yang tepat atau tindakan pencegahan dini," tambahnya.
Kabid Kesehatan Hewan juga mengingatkan masyarakat untuk hanya mengonsumsi daging dari hewan yang sehat. Tindakan ini diharapkan dapat mencegah penyebaran antraks dan menjaga kesehatan masyarakat Blora. (HW)