Menanggapi viralnya video dugaan perundungan di salah satu SMP di Kabupaten Blora, Kepala Dinas Pendidikan Sunaryo menegaskan bahwa dunia p...
Menanggapi viralnya video dugaan perundungan di salah satu SMP di Kabupaten Blora, Kepala Dinas Pendidikan Sunaryo menegaskan bahwa dunia pendidikan tidak tinggal diam. Kadisdik memastikan seluruh pihak terlibat bergerak cepat untuk menyelesaikan persoalan ini dengan cara yang mendidik, membina, dan menenangkan, bukan menghukum semata.
“Kami tidak ingin kasus ini menjadi luka baru bagi dunia pendidikan. Justru ini menjadi bahan refleksi agar sekolah semakin kuat dalam menanamkan empati dan karakter kepada siswa,” ujar Sunaryo, Sabtu (9/11).
Penanganan Kolaboratif dan Pembinaan Anak
Dinas Pendidikan Blora langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti Dewan Pendidikan, Bidang PPA Dinsos P3A, Unit PPA Polres Blora, Komite Sekolah, dan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di satuan pendidikan.
Tujuannya jelas, memastikan korban mendapat pendampingan, pelaku dibina, dan sekolah melakukan evaluasi tanpa saling menyalahkan.
“Kami ingin penanganan ini tidak berhenti pada sanksi, tapi menjadi pembelajaran bagi semua. Anak-anak ini masih dalam masa tumbuh kembang, dan tugas kita adalah mendampingi, bukan menakut-nakuti,” tegasnya.
Langkah Nyata, Guru BK Diperkuat, HP Siswa Dievaluasi
Sunaryo menyebutkan, Dinas Pendidikan kini tengah memperkuat peran guru bimbingan dan konseling (BK) sebagai garda depan pendampingan anak. Guru BK diharapkan lebih aktif membangun komunikasi dengan siswa dan orang tua agar potensi masalah sosial dapat dicegah lebih dini.
Selain itu, pihaknya tengah mengkaji kebijakan pembatasan penggunaan telepon genggam di sekolah, guna mencegah penyalahgunaan yang dapat berdampak negatif terhadap lingkungan belajar.
“Kami tidak menuduh teknologi sebagai penyebab, tapi kami ingin menanamkan tanggung jawab dalam penggunaannya. Sekolah harus jadi tempat aman dan bermartabat,” kata Sunaryo.
Harapan bagi Orang Tua dan Sekolah
Sunaryo juga berpesan agar orang tua tidak kehilangan kepercayaan terhadap dunia pendidikan. Menurutnya, justru dari kejadian seperti inilah semua pihak bisa belajar untuk memperkuat sinergi antara rumah dan sekolah.
“Kami paham keresahan para orang tua. Tapi percayalah, sekolah dan Dinas Pendidikan bekerja keras memastikan anak-anak Blora tumbuh di lingkungan yang positif dan penuh kasih,” ujarnya dengan nada menenangkan.
Sunaryo menambahkan, peristiwa ini menjadi momentum untuk membangun budaya sekolah yang berempati, bukan saling menghakimi.
Menumbuhkan Kepercayaan, Menjaga Harapan
Kasus ini mengingatkan semua pihak bahwa dunia pendidikan bukan ruang steril dari masalah, tetapi ruang belajar bagi semua—guru, murid, dan orang tua.
Ketika kesalahan muncul, yang paling penting bukan siapa yang salah, melainkan bagaimana semua pihak belajar memperbaikinya bersama.
Dengan langkah cepat dan pendekatan kolaboratif, Dinas Pendidikan Blora berharap kejadian serupa tak terulang, dan kepercayaan publik terhadap sekolah tetap tumbuh dengan kokoh.
