Ribuan aparatur desa di Kabupaten Blora menggelar Kenduri Desa dalam rangka Hari Desa 2026.
BLORA, Senin pagi, 12 Januari 2026, Alun-Alun Kabupaten Blora tidak riuh oleh dentum musik atau sorak-sorai pesta. Di bawah langit awal tahun, hamparan karpet membentang, menampung sekitar 4.000 jiwa yang datang membawa satu napas, syukur dan empati. Mereka adalah para camat, kepala desa, hingga perangkat desa dari pelosok Sambong hingga Jati, yang berkumpul dalam balutan ritual "Kenduri Desa".
Peringatan Hari Desa tahun ini di Blora melepaskan diri dari kesan seremonial kaku. Tidak ada gerak jalan atau pawai kemewahan. Sebagai gantinya, ribuan pasang tangan menengadah. Di tengah aroma nasi tumpeng yang menjadi simbol kerukunan, doa-doa dipanjatkan dengan khidmat, melintasi batas geografis menuju saudara-saudara di Sumatera dan Aceh yang tengah dirundung duka akibat bencana banjir.
Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, berdiri di tengah warganya dengan nada bicara yang teduh namun penuh ketegasan visi. “Hari ini kita mengadakan Kenduri untuk mensyukuri nikmat, sekaligus mengirimkan energi doa dan bantuan nyata bagi saudara kita di Sumatera dan Aceh. Ini adalah bentuk empati dari desa untuk bangsa,” ujarnya.
Dari MBG hingga Lumbung Organik
Momentum ini juga menjadi panggung penegasan arah pembangunan Blora di masa depan. Di hadapan Dirjen Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa, Dr. H. Tabrani, Bupati Arief menekankan bahwa desa bukan lagi sekadar objek, melainkan mesin penggerak utama Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Fokusnya tajam, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan dikunci melalui penguatan Koperasi Desa Merah Putih. Bupati menginginkan bahan baku MBG—mulai dari sayur-mayur hingga protein—disuplai langsung oleh keringat petani lokal, bukan distributor luar.
“Kita harus siap. PKK akan bergerak dengan sayur-mayurnya, dan setiap desa saya minta menyiapkan satu hektare tanah bengkok untuk percontohan pertanian organik. Blora harus menjadi kabupaten organik yang cinta lingkungan,” tegas Bupati yang disambut anggukan mantap para kepala desa.
Sebuah Model Nasional
Langkah Blora yang mengawinkan nilai spiritual kenduri dengan aksi kemanusiaan dan kebijakan strategis mendapat apresiasi tinggi dari pusat. Dr. H. Tabrani menyebut Blora sebagai "pencakar langit" inovasi desa.
“Biasanya Hari Desa diwarnai gerak jalan, tapi di Blora, kita duduk bersimpuh, berdoa dipimpin ulama. Ini akan menjadi contoh nasional tentang bagaimana membangun dari bawah, dari desa, untuk memberantas kemiskinan,” tutur Tabrani.
Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng, sebuah simbol bahwa kemakmuran harus dibagi rata. Di sela-sela itu, kotak-kotak donasi terisi penuh, membuktikan bahwa meski raga mereka berada di jantung jati Jawa Tengah, hati mereka bergetar untuk Aceh dan Sumatera.
Di Blora, pembangunan desa bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah laku batin untuk menjaga bumi dan sesama.


