Aksi gotong royong Polsek Kunduran, Babinsa, dan warga Desa Ngilen di Masjid Baitul Awamil Muttaqim.
KUNDURAN – Pagi itu, Senin, 12 Januari 2026, kabut tipis mungkin masih enggan beranjak sepenuhnya dari persawahan di Kecamatan Kunduran. Namun, di sebuah sudut Desa Ngilen, geliat kehidupan sudah mencapai puncaknya lebih awal. Di halaman Masjid Baitul Awamil Muttaqim yang baru saja berdiri, sebuah simfoni tanpa dirigen sedang dimainkan: simfoni gotong royong.
Tidak ada sekat yang kaku antara seragam cokelat Polri, seragam hijau TNI, dan pakaian lusuh warga desa yang penuh noda tanah. Di sana, Aiptu Sulkan, sang Bhabinkamtibmas yang sudah karib dengan wajah-wajah warga, tampak bahu-membahu dengan Kanit Provos Aiptu Utut. Mereka tidak datang sebagai pengawas, melainkan sebagai saudara tua yang siap berkeringat.
Langkah kaki mereka selaras dengan ayunan cangkul Serka Suwarji, sang Babinsa, yang sejak pagi buta sudah menyatu dengan derap langkah perangkat desa. Mereka sedang membersihkan sisa-sisa pembangunan di halaman masjid, memastikan rumah ibadah itu tidak hanya megah secara bangunan, tapi juga nyaman bagi setiap sujud yang akan dilakukan di dalamnya.
Pesan di Balik Peluh
Di sela-sela rehat sejenak, sambil menyeka keringat yang menetes di dahi, Aiptu Sulkan menyisipkan pesan yang tajam namun lembut. Di tengah riuhnya arus informasi digital yang seringkali memecah belah, ia mengingatkan warga agar tidak mudah terombang-ambing oleh angin ujaran kebencian di media sosial.
"Rumah ibadah ini kita bangun dengan cinta, maka mari kita jaga hati kita dari benci," bisik pesan itu di antara obrolan santai warga. Keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Desa Ngilen pagi itu tidak dirajut melalui penegakan hukum yang dingin, melainkan melalui hangatnya jabat tangan dan kerja nyata.
Pesan Kapolsek Kunduran
Iptu Budi Santoso, S.H., M.H., selaku nakhoda di Polsek Kunduran, memberikan refleksi mendalam atas kegiatan ini. Baginya, hadir di tengah masyarakat adalah sebuah panggilan jiwa.
"Masjid Baitul Awamil Muttaqim adalah simbol pemersatu. Kehadiran personel kami di sana adalah penegasan bahwa Polri bukan hanya institusi yang hadir saat ada masalah, tapi sahabat yang hadir untuk merawat harmoni. Kami ingin memastikan bahwa kerukunan warga Desa Ngilen sekuat fondasi masjid ini—tidak mudah goyah oleh provokasi media sosial yang tak berdasar. Kami hadir, kami berbuat, dan semoga kehadiran kami benar-benar bermanfaat," pungkas Iptu Budi Santoso dengan nada optimis.
Saat matahari mulai meninggi tepat pukul 08.30 WIB, halaman masjid itu telah bersih. Namun yang lebih penting, ikatan batin antara aparat dan rakyat kian mengkristal. Desa Ngilen hari ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru Blora: bahwa kedamaian dimulai dari halaman masjid, dari tangan-tangan yang rela kotor demi kesucian bersama.


