Kebakaran hebat melanda pabrik briket arang di Kunduran, Blora.
KUNDURAN, Malam Minggu itu, 24 Januari 2026, seharusnya menjadi waktu istirahat yang tenang bagi warga Kelurahan Kunduran. Namun, bagi Tarmuji (71), keheningan malam adalah kawan sekaligus lawan saat yang bersangkutan menjalankan tugas menjaga pabrik briket arang di pinggir Jalan Kunduran-Ngilen.
Sekira pukul 22.30 WIB, aroma khas kayu terbakar yang biasanya menjadi sumber penghidupan, tiba-tiba berubah menjadi ancaman mencekam. Di dekat pintu mesin oven, Tarmuji melihat lidah api mulai menari liar. Dengan napas memburu, lelaki tua tersebut memanggil Yasno. Keduanya mencoba melawan amuk api dengan air seadanya—sebuah ikhtiar kecil di hadapan kekuatan besar yang haus melahap apa saja.
Namun, api tak mau berkompromi. Dalam hitungan menit, si jago merah merambat ke dinding asbes dan atap seng, mengubah ruang produksi menjadi tungku raksasa. Mesin oven, dinamo, hingga satu ton bahan arang hangus tak tersisa.
Kapolsek Kunduran yang turun langsung ke lokasi bersama jajaran Koramil dan Damkar, menegaskan pentingnya evaluasi sistem keamanan kerja. Di sela-sela proses identifikasi, beliau memberikan pernyataan resminya terkait musibah ini.
"Kami turut prihatin atas musibah yang menimpa saudara kita, Munawar S.H.. Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua, terutama pelaku usaha, untuk selalu melakukan pengecekan berkala terhadap instalasi listrik. Dugaan awal adalah korsleting, dan kami mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi gangguan kamtibmas maupun bahaya kebakaran seperti ini," ujar Kapolsek Kunduran Iptu. Budi Santoso, S.H., M.H.
Kehadiran petugas di tengah malam buta tersebut menjadi wujud nyata dari semboyan "Hebat, Hadir, Berbuat, dan Bermanfaat". Api memang berhasil dipadamkan sebelum merembet ke pemukiman warga, namun sisa-sisa kabel yang hangus kini menjadi saksi bisu betapa rapuhnya usaha manusia di hadapan kelalaian kecil yang berakibat fatal.
Kini, di bawah langit Kunduran yang kembali mendingin, yang tersisa hanyalah puing-puing asbes dan aroma sangit yang menyengat. Sebuah pengingat bagi kita di wilayah Blora, bahwa di balik setiap musibah, kesiapsiagaan adalah kunci, dan empati adalah penguat bagi mereka yang sedang berduka.


