Mahasiswa IAI Al-Muhammad dan STTR Cepu bagikan papan catur di Giyanti guna cegah judi serta bangun karakter intelektual warga bersama Ir. Siswanto.
| Ir. Siswanto bersama mahasiswa IAI Al-Muhammad dan STTR Cepu saat menyerahkan papan catur kepada pemilik warung kopi di Desa Giyanti |
Suasana riuh rendah warung kopi di Desa Giyanti siang itu terasa berbeda dari biasanya. Aroma kopi kental yang berkelindan dengan asap rokok kini kedatangan tamu istimewa yang membawa misi besar dalam balutan kesederhanaan. Kelompok KKN "Banyu Kendi" dari IAI Al-Muhammad Cepu menggandeng Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Sipil STTR Cepu melakukan sebuah manuver kebudayaan yang barangkali luput dari perhatian banyak orang namun memiliki dampak sosiologis yang sangat dalam. Mereka membagi-bagikan papan catur ke lima titik strategis yang tersebar di wilayah tersebut yaitu dua warung kopi di Dukuh Trisinan, dua warung di Dukuh Giyanti, serta satu titik di Dukuh Cancangan.
Mengalihkan Adrenalin dari Meja Judi ke Papan Strategi
Langkah yang diambil para mahasiswa ini merupakan sebuah bentuk intervensi sosial yang cerdas dan terukur. Bagi para pejuang KKN dari IAI Al-Muhammad, penyebaran papan catur ini menjadi tameng pencegahan terhadap potensi praktik perjudian yang kerap mengintai ruang-ruang publik di pelosok desa. Warung kopi yang selama ini hanya menjadi tempat bercengkerama tanpa arah kini ditawarkan sebuah alternatif hiburan yang menuntut ketajaman berpikir serta kesabaran tinggi.
Secara psikologis, permainan catur mampu memberikan stimulasi pada bagian otak yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pengendalian diri. Dengan menghadirkan papan catur, mahasiswa sebenarnya sedang melakukan rekayasa perilaku masyarakat agar lebih memilih tantangan intelektual daripada terjebak dalam euforia semu taruhan uang. Ini adalah bentuk pengabdian yang menyentuh aspek spirituil dan karakter manusia secara langsung sesuai dengan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi di bumi Cepu Raya.
Kolaborasi Lintas Disiplin demi Karakter Bangsa
Kehadiran HMJ Teknik Sipil STTR Cepu dalam gerakan ini memberikan warna tersendiri bagi dinamika organisasi mahasiswa di wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut. Mereka memandang bahwa gerakan mahasiswa masa kini tidak boleh hanya terpaku pada retorika kritik terhadap kebijakan pemerintah semata melainkan harus berani mengambil peran dalam pembentukan karakter intelektual masyarakat secara langsung. Kolaborasi antar kampus ini menjadi bukti nyata bahwa ego sektoral antar institusi pendidikan bisa dilebur demi kepentingan yang jauh lebih besar yaitu pengabdian masyarakat.
Dukungan penuh pun mengalir dari sosok Ir. Siswanto yang menjabat sebagai Anggota Komisi B DPRD Blora sekaligus Dewan Penyantun STTR Cepu. Tokoh yang dikenal memiliki kedekatan emosional dengan dunia mahasiswa ini tidak hanya memberikan dukungan materiil namun juga suntikan semangat spiritual. Bagi Ir. Siswanto, kepercayaan yang diberikan kepada mahasiswa Teknik Sipil untuk membangun relasi positif dengan pihak lain merupakan bagian dari investasi pendidikan karakter yang tidak ditemukan di dalam ruang kelas formal.
Menjaga Ketajaman Kognitif dan Menolak Lupa
Menariknya, Ir. Siswanto yang sejak masa kecilnya sudah akrab dengan bidak catur menyelipkan sebuah pesan kesehatan yang sangat relevan. Anggota dewan ini meyakini bahwa kebiasaan bermain catur merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga kesehatan mental serta menghindarkan seseorang dari serangan kepikunan atau demensia di masa tua. Catur memaksa sirkuit saraf di otak untuk terus aktif memetakan kemungkinan dan memecahkan masalah sehingga sel-sel saraf tetap terkoneksi dengan baik meski usia terus bertambah.
Apresiasi senada juga datang dari Adi Kusmianto selaku perwakilan Dosen Pembimbing Lapangan KKN IAI Al-Muhammad yang melihat bahwa sinergi ini harus terus dirawat dan dilanjutkan. Dosen senior ini berharap agar hubungan harmonis antar kampus ini tidak berhenti pada pembagian papan catur saja namun bisa merambah ke program-program inovatif lainnya yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat desa.
Keselarasan Pengabdian dan Pengawasan Sosial
Di sisi lain, Agus Waskito yang membidangi Pengabdian Masyarakat STTR Cepu memberikan penghormatan setinggi-tingginya atas keterlibatan aktif para mahasiswa serta kehadiran tokoh publik seperti Ir. Siswanto yang mau turun langsung ke lapangan. Kehadiran tokoh politik di tengah kegiatan mahasiswa ini dipandang sebagai bentuk validasi bahwa gerakan intelektual muda memiliki tempat yang sangat terhormat dalam struktur pembangunan daerah.
Heri Ireng selaku penyuluh sosial dari Unit Pemberdayaan Masyarakat Kemensos RI yang turut mendampingi jalannya kegiatan memberikan analisis yang cukup mendalam. Dengan gaya bicara yang penuh kehati-hatian, Mas Heri menegaskan bahwa penyebaran papan catur ini adalah langkah antisipatif yang sangat krusial guna meminimalkan munculnya berbagai permasalahan sosial yang bersumber dari aktivitas negatif di warung kopi. Menurutnya, tindakan preventif seperti ini jauh lebih efektif dan manusiawi daripada melakukan penindakan hukum setelah masalah sosial tersebut telanjur mengakar di tengah masyarakat.
Mari kita dukung terus gerakan kreatif para mahasiswa Cepu Raya dalam membangun karakter bangsa dari warung kopi ke warung kopi lainnya! Bagikan artikel ini untuk menginspirasi lebih banyak pemuda agar berani melakukan aksi nyata bagi lingkungan sekitar mereka.