Sinergi IAI Al-Muhammad, STTR Cepu, dan DPRD Blora di pos kamling Desa Giyanti buktikan kolaborasi intelektual tak butuh kemewahan untuk berdampak.
![]() |
| Potret hangat diskusi antara dosen IAI Al-Muhammad, Ir. Siswanto, dan aparat di pos kamling pinggir lapangan Giyanti |
Sebuah pemandangan yang tidak lazim sekaligus menyegarkan terjadi di sudut lapangan Desa Giyanti. Ketika Balai Desa sedang dipenuhi riuh rendah kegiatan Posyandu Balita, sebuah momentum strategis justru tercipta di bangunan kayu sederhana yang lazim disebut pos kamling. Tanpa denting sendok pada cangkir porselen mahal atau hembusan pendingin ruangan yang artifisial, para motor penggerak peradaban di Cepu Raya duduk berjajar untuk merumuskan masa depan pengabdian masyarakat. Di sana hadir Adi Kusmianto, Ruslan, dan Joko Widodo selaku Dosen Pembimbing Lapangan KKN IAI Al-Muhammad yang bersua dengan Ir. Siswanto, Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Blora sekaligus Dewan Penyantun STTR Cepu.
Pertemuan yang turut didampingi oleh Heri Ireng selaku Penyuluh Sosial Unit Pemberdayaan Masyarakat Kemensos RI serta Harno selaku Babinsa Desa Giyanti ini menjadi antitesis dari formalitas birokrasi yang seringkali kaku. Di atas lincak kayu tersebut, diskusi mengenai peningkatan relasi positif dan produktif antar kampus serta antar institusi mengalir dengan sangat jernih dan mendalam.
Mendekonstruksi Elitisme Akademik melalui Ruang Publik
Fenomena ini mencerminkan sebuah kedewasaan intelektual yang luar biasa dari kedua institusi pendidikan tinggi di Cepu. IAI Al-Muhammad dan STTR Cepu secara sadar sedang meruntuhkan tembok pembatas antara akademisi dengan realitas sosial. Pertemuan di pos kamling tersebut bukan sekadar alternatif tempat karena keterbatasan ruang, melainkan sebuah pernyataan simbolis bahwa ilmu pengetahuan harus mampu beradaptasi dan bernapas dalam ruang-ruang publik yang paling sederhana sekalipun.
Secara sosiologis, pemilihan pos kamling sebagai ruang koordinasi menciptakan level komunikasi yang setara atau egalitarian. Tidak ada sekat protokoler yang menghalangi pertukaran gagasan. Hal ini memungkinkan lahirnya keputusan-keputusan yang lebih membumi serta aplikatif bagi kebutuhan masyarakat Desa Giyanti. Pola interaksi ini merupakan investasi besar pada pendidikan karakter masyarakat yang secara langsung menyaksikan bahwa para intelektual dan pemangku kebijakan mereka adalah sosok-sosok yang inklusif serta mudah dijangkau.
Sinergi Lintas Sektoral sebagai Katalisator Perubahan
Keterlibatan Ir. Siswanto dalam lingkaran diskusi tersebut memberikan dimensi kebijakan yang sangat kuat. Sebagai sosok yang bergerak di ranah legislatif sekaligus dewan penyantun kampus, Ir. Siswanto menunjukkan komitmen bahwa dukungan terhadap dunia pendidikan tidak selalu harus bersifat seremonial di gedung parlemen. Kehadirannya di pos kamling bersama para dosen dan penyuluh sosial merupakan bentuk nyata dari fungsi pengawasan dan fasilitasi yang menyentuh akar rumput.
Dukungan dari aspek keamanan melalui kehadiran Babinsa serta pendampingan sosial dari Kemensos melengkapi ekosistem kolaborasi ini menjadi sebuah kekuatan yang holistik. Diskusi tersebut tidak lagi hanya bicara tentang teknis KKN, melainkan sudah masuk pada ranah pembangunan manusia Cepu Raya seutuhnya. Mereka sedang merancang sebuah cetak biru hubungan antar lembaga yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat administratif, melainkan diikat oleh visi bersama untuk menciptakan masyarakat yang lebih cerdas dan berkarakter.
Investasi Karakter di Balik Langkah Kecil
Meskipun terlihat sebagai sebuah langkah kecil, koordinasi yang dilakukan di pos kamling ini membawa pesan edukasi yang sangat masif bagi warga desa. Masyarakat diberikan teladan nyata mengenai cara berkomunikasi dan berkolaborasi dalam keterbatasan. Ini adalah pendidikan karakter yang tidak diajarkan melalui teks, melainkan melalui peragaan langsung oleh para tokoh-tokohnya.
Keberhasilan IAI Al-Muhammad dan STTR Cepu dalam membangun relasi positif ini membuktikan bahwa kualitas intelektual sebuah kampus tidak ditentukan oleh kemewahan fasilitas pertemuannya, melainkan oleh kedalaman dampak yang dihasilkan dari setiap diskusinya. Giyanti telah menjadi saksi bahwa dari sebuah pos kamling di pinggir lapangan, ide-ide besar untuk kemajuan daerah bisa dipahat dengan penuh kejujuran dan dedikasi yang tulus.
