JOMBANG, 22 Agustus 2026 - Arus dukungan terhadap pencalonan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdla...
JOMBANG, 22 Agustus 2026 - Arus dukungan terhadap pencalonan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus mengalir deras dari berbagai wilayah Indonesia. Hanya lima hari jelang pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, gelombang dukungan dari Aceh hingga Sulawesi dan Gorontalo semakin memperkuat posisi Ketua PWNU Jawa Tengah ini sebagai salah satu kandidat terkuat.
Dalam rangkaian safari organisasi ke sejumlah daerah—termasuk Bengkulu, Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, hingga Sulawesi Tenggara - Gus Rozin tidak hanya menyapa para pengurus NU, tetapi juga menawarkan gagasan besar tentang arah baru organisasi terbesar di Indonesia ini.
Kapasitas Teruji, Pengalaman Tak Diragukan
Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh, Tengku Haji Faisal Ali, memberikan testimoni kuat atas kapasitas kepemimpinan Gus Rozin. Menurutnya, pengalaman Gus Rozin selama lebih dari dua dekade di berbagai tingkatan organisasi NU menjadi bekal untuk mengemban tanggung jawab lebih besar di tingkat nasional.
"Perjuangan yang berada di bawah komando Gus Rozin tentu tidak perlu lagi diragukan. Kapasitas, pengalaman, serta kepiawaian beliau dalam memimpin organisasi telah teruji dalam berbagai situasi," tegas Faisal dalam pertemuan PWNU dan PCNU se-Aceh.
Testimoni serupa juga disampaikan Rais Syuriyah PCNU Bener Meriah yang menggambarkan Gus Rozin sebagai sosok dengan loyalitas tinggi dan komitmen pengabdian yang jelas. Sementara Rais Syuriyah PCNU Aceh Tengah menyoroti pentingnya penguatan pesantren sebagai akar utama NU - sebuah isu yang selama ini menjadi perhatian serius Gus Rozin.
Tiga Gagasan Besar untuk NU
Dalam setiap kesempatan silaturahim, Gus Rozin membawa tiga agenda utama yang menjadi visi kepemimpinannya:
1. Poros Tengah untuk Merawat Persatuan – Mengakhiri polarisasi internal dan mengembalikan tradisi musyawarah dalam pengambilan keputusan organisasi. "Poros tengah adalah jalan untuk mempertemukan berbagai pihak, meredakan ketegangan, dan mengembalikan NU kepada kepentingan yang lebih besar, yaitu ukhuwah Nahdliyah," ujarnya.
2. NU sebagai Rumah Besar Masyarakat Sipil Keagamaan – Memperkuat posisi NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang independen dan berpihak pada kepentingan umat.
3. Kemandirian Organisasi Berbasis Jamaah – Membangun kekuatan NU dari akar rumput, bukan hanya dari struktur pusat. "NU tidak akan besar kalau yang kuat hanya PBNU. Yang harus kita kuatkan justru cabang-cabangnya, pesantrennya, jamaahnya," tegas Gus Rozin.
Penguatan dari Bawah: DNA Kepemimpinan Gus Rozin
Rekam jejak panjang Gus Rozin di NU—mulai dari IPNU, GP Ansor, LP Ma'arif, RMI PBNU, hingga kini sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah dan Ketua Majelis Masyayikh—membentuk pola kepemimpinan yang berorientasi pada penguatan struktur bawah.
Salah satu gagasan yang paling mengemuka adalah pola hubungan PBNU dengan daerah yang lebih berfungsi sebagai penghubung, penguat, dan pemberi akses. Menurutnya, keberhasilan satu cabang harus bisa direplikasi oleh cabang lain, sehingga NU tumbuh sebagai organisasi dengan kekuatan kolektif.
"Kalau satu PCNU sudah berhasil di satu bidang, PCNU lain tidak harus memulai semuanya dari nol," ujar Gus Rozin.
Komitmennya pada dunia pesantren juga tidak diragukan. Di RMI PBNU, ia terlibat dalam pengawalan lahirnya Undang-Undang Pesantren, Liga Santri Nasional, hingga Gerakan Ayo Mondok.
Respons Positif dari Berbagai Daerah
Dari Sulawesi dan Gorontalo, respons terhadap gagasan Gus Rozin juga mengalir positif. Isu penguatan struktur organisasi, pesantren, jamaah, hingga kemandirian NU menjadi bagian dari pembahasan hangat dalam pertemuan-pertemuan tersebut.
PWNU Aceh bahkan menyoroti peran strategis Gus Rozin yang selalu berada di garda terdepan membentengi tradisi, nilai, dan keberlangsungan pesantren dari berbagai pengaruh yang dinilai dapat mengganggu.
Momentum Muktamar yang Semakin Dekat
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Persiapan muktamar disebut telah mencapai lebih dari 85 persen, dengan penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT) mencapai 95 persen. Sebanyak 548 PCNU dan 28 PWNU se-Indonesia akan menjadi peserta.
Presiden Prabowo Subianto juga telah diundang untuk membuka langsung muktamar pada 27 Agustus 2026.
"Bukan Sekadar Kontestasi, tapi Ikhtiar Bersama"
Bagi Gus Rozin, pencalonannya bukan sekadar kontestasi merebut posisi. Keputusan untuk maju disebutnya lahir setelah melalui proses perenungan, istikharah, serta pertimbangan yang panjang.
"Kalau kita berbicara tentang masa depan NU, yang harus dibicarakan bukan hanya siapa yang memimpin, tetapi NU seperti apa yang ingin kita bangun. Mendengar suara dari bawah menjadi bagian penting dari proses ini," ujar Gus Rozin.
Dengan dukungan yang terus menguat dari berbagai wilayah, dan gagasan-gagasan segar yang ditawarkan, Gus Rozin hadir sebagai salah satu figur yang diharapkan mampu membawa NU menuju abad kedua dengan fondasi yang kokoh dari akar rumput hingga ke puncak kepemimpinan.