Di tengah dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), calon Ketua Umum PBNU KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin memilih pendek...
Di tengah dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), calon Ketua Umum PBNU KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin memilih pendekatan yang sederhana namun sarat makna. Bukan sekadar menyampaikan visi besar, ia justru lebih banyak mendengar, mencatat, dan menyimak suara para pengurus NU di berbagai daerah.
Langkah tersebut menjadi ciri khas perjalanan silaturahminya yang telah menjangkau Bengkulu, Yogyakarta, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Timur hingga Madura. Di setiap daerah, Gus Rozin membuka ruang dialog seluas-luasnya agar para kiai, pengurus, dan kader dapat menyampaikan persoalan nyata yang mereka hadapi.
Bukan Sekadar Kampanye, Tetapi Menjemput Aspirasi
Berbeda dengan pola yang lazim dilakukan dalam kontestasi organisasi, Gus Rozin tidak datang hanya membawa pidato dan janji. Ia memilih duduk bersama, mendengarkan pengalaman para pengurus, mencatat setiap masukan, lalu menjadikannya bahan untuk menyusun arah kebijakan organisasi ke depan.
Dalam berbagai forum, ia lebih sering terlihat menyimak daripada berbicara. Setiap kritik, usulan, hingga harapan dicatat sebagai bagian dari proses memahami wajah NU yang sesungguhnya.
"NU tidak akan besar kalau yang kuat hanya PBNU. Yang harus kita kuatkan justru cabang-cabangnya, pesantrennya, jamaahnya. Kalau mereka kuat, dengan sendirinya NU juga akan kuat," ujar Gus Rozin.
NU Besar Karena Daerahnya Kuat
Setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda. Ada yang berfokus pada penguatan pesantren, kaderisasi, ekonomi umat, kemandirian organisasi, hingga hubungan NU dengan pemerintah dan masyarakat.
Karena itulah, menurut Gus Rozin, kebijakan di tingkat pusat tidak bisa disusun hanya berdasarkan laporan administratif. Suara dari cabang, MWC, ranting, pesantren, hingga jamaah harus menjadi pijakan utama dalam menentukan arah organisasi.
Pendekatan tersebut memperlihatkan keyakinannya bahwa kekuatan NU lahir dari bawah, bukan semata-mata dari pusat.
Mencatat Hari Ini, Menjawab Esok Hari
Kebiasaan membawa catatan dalam setiap pertemuan bukan sekadar simbol. Bagi Gus Rozin, setiap aspirasi adalah bahan untuk merumuskan langkah organisasi ke depan.
Tidak semua persoalan bisa dijawab saat itu juga. Namun, setiap masukan menjadi bagian dari proses menyusun gagasan yang lebih matang dan sesuai dengan kebutuhan warga NU di berbagai wilayah.
Dengan struktur organisasi yang membentang dari PBNU hingga ranting, serta jaringan pesantren yang begitu luas, pendekatan berbasis dialog dinilai menjadi salah satu cara memahami keragaman persoalan yang dihadapi warga Nahdliyin.
Mendengar Adalah Kekuatan Seorang Pemimpin
Dalam kontestasi menuju Ketua Umum PBNU, kemampuan menyampaikan visi memang penting. Namun, kemampuan mendengar sering kali menjadi nilai yang lebih menentukan.
Seorang pemimpin tidak mungkin memahami seluruh persoalan organisasi hanya dari ruang kantor. Ia harus hadir di tengah pengurus, menyimak langsung persoalan mereka, lalu menerjemahkannya menjadi kebijakan yang membawa manfaat.
Bagi Gus Rozin, mendengar berarti memberi ruang kepada orang lain untuk berbicara. Menyimak berarti memahami substansi persoalan. Sementara mencatat adalah bentuk kesungguhan agar setiap aspirasi tidak berhenti sebagai percakapan semata.
Menuju Muktamar dengan Membawa Suara Jamaah
Rangkaian perjalanan Gus Rozin ke berbagai daerah menunjukkan pola yang konsisten: datang, berdialog, mendengar, mencatat, lalu menyusun gagasan.
Pendekatan tersebut menggambarkan upaya menempatkan aspirasi daerah sebagai fondasi dalam membaca tantangan organisasi di masa depan.
Muktamar ke-35 NU pada akhirnya bukan hanya soal memilih siapa yang akan memimpin PBNU, tetapi juga menentukan bagaimana NU tetap menjadi organisasi yang dekat dengan jamaah, kuat di akar rumput, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Di tengah besarnya peran NU di tingkat nasional maupun global, satu hal tetap menjadi kunci: keputusan yang lahir dari suara warga di bawah akan melahirkan organisasi yang lebih kokoh di atas. Itulah pesan yang terus dibawa Gus Rozin dalam setiap langkah silaturahminya—memimpin dimulai dari kesediaan untuk mendengar.